<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8455357203559691449</id><updated>2011-10-24T13:52:53.214+07:00</updated><category term='profil'/><category term='Resensi'/><category term='artikel'/><category term='more than word'/><category term='Liputan'/><category term='Artikel Mahasiswa'/><category term='Jurnalis'/><title type='text'>Riungan KPI STAI Persatuan Islam</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>HMJ KPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13828611505631743873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='16' src='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Sg7PQuakk9I/AAAAAAAAAEI/csWQTzvhxsk/S220/KPI+SURAT.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8455357203559691449.post-4130661308789052819</id><published>2009-05-27T00:44:00.001+07:00</published><updated>2010-10-29T15:23:27.012+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalis'/><title type='text'>Enam Jurus Menulis Artikel</title><content type='html'>oleh: Kang Romel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kunci sukses&lt;/span&gt; menulis itu niat, motivasi, lalu latihan. Niat itulah yang memunculkan mood menulis. Wadah latihan menulis antara lain blog. Buat blog, lalu tulis apa saja yang penting sekiranya bermanfaat bagi orang lain. Ingat, nulis di blog jangan sama bener sama nulis di buku harian. ‘Cause, blog tu kan dibaca orang. Jadi, tulislah apa pun dengan kesadaran tulisan Anda dikonsumsi publik. Di blog, kita berkomunikasi tulisan dengan publik. Komunikasi massa juga, namun sifatnya personal.&lt;br /&gt;Ringkasan teknis menulis atau cara cepat menulis itu sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Temukan ide, tema, lalu buatlah judul sementara.&lt;br /&gt;2. Kembangkan ide/tema dengan baca referensi sebanyak mungkin. Mandeg saat menulis? Pati kurang referensi atau bahan ‘kan?&lt;br /&gt;3. Buat outline, garis besar tulisan, lalu simpan.&lt;br /&gt;4. Lupan sejenak outline, tulis saja apa yang mau disampaikan dalam tulisan itu. Tulis saja apa yang ada di hati/pikiran soal tema tersebut. Bebas, abaikan dulu data akurat dan ejaan, nulis saja lah. Just write! Free writing! Do it as rapidly as you can!&lt;br /&gt;5. Tulis ulang. A good writer is also good rewriter. Rapikan konten/isi tulisan dan sesuaikan dengan outline.&lt;br /&gt;6. Edit, rapikan redaksional tulisan –ejaan, kalimat, tanda baca. Pastikan tiap penulisan kata sudah benar, penulisannya juga udah esuai dengan EYD, bermakna, dan tiap kalimat logis. Wis, gitu deh…&lt;br /&gt;Masih bingung? Coba latih kemampuan menulis Anda dengan menjawab secara tertulis pertanyaan di bawah ini;&lt;br /&gt;1. Mau nulis apa, sebutkan tema!&lt;br /&gt;2. Soal apanya? Sempitkan tu tema!&lt;br /&gt;3. Kenapa milih tema itu? Emangnya aktual? Penting? Tulis alasannya.&lt;br /&gt;4. Truz…. Apa yang mau dikemukakan? Pendapat Anda tentang hal itu bagaimana? (Mau ngutip pendapat orang? Boleh… sebutkan sumbernya!).&lt;br /&gt;5. Udah kan….? Gampang kok! Peserta kedua diklat menulis yang saya ceritakan di atas udah membuktikannya, nulis itu gampang kok, asal niat! Benar kan pak. bu, akang, teteh?&lt;br /&gt;Struktur artikel di media massa: judul, nama penulis, intro/pembuka, bridge/penghubung antara intro dan bahasan, lalu bahasan (biasanya per subjudul, 2-3 tiga subjudul, biar fokus, and finally penutup/kesimpulan. Info lengkapnya baca lagi deh : “Faidah dan Kaifiyah Menulis”. Cari aja di search engine, ada kok.&lt;br /&gt;Tulisan untuk media massa, jangan gunakan gaya menulis blog kayak saya nulis ini, tapi gunakan bahasa tulisan, bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku bersadarkan Pancasila dan UUD ’45 (?). Wasalam. (www.romeltea.com).*&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8455357203559691449-4130661308789052819?l=kpi-staipersis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/feeds/4130661308789052819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2009/05/enam-jurus-menulis-artikel.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/4130661308789052819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/4130661308789052819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2009/05/enam-jurus-menulis-artikel.html' title='Enam Jurus Menulis Artikel'/><author><name>HMJ KPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13828611505631743873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='16' src='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Sg7PQuakk9I/AAAAAAAAAEI/csWQTzvhxsk/S220/KPI+SURAT.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8455357203559691449.post-141717887376949903</id><published>2009-05-27T00:34:00.002+07:00</published><updated>2009-05-27T00:37:43.007+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalis'/><title type='text'>Cara Mudah Menulis Berita</title><content type='html'>Oleh: Kang Romel (http://romeltea.wordpress.com/2008/12/27/cara-mudah-menulis-berita-dan-artikel/)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TAHUN baru hijriyah&lt;/span&gt;, 1 Muharam 1430 H/29 Desember 2008, akan saya “rayakan” di Kampus STAI Persis (Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam) Bandung dengan mengisi acara pelatihan jurnalistik, digelar HMJ Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Ahad (28/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu antusias menjadi pemateri di acara pelatihan seperti itu, apalagi pesertanya adalah kader-kader dakwah. Selama ini, saya lihat, manajamen dakwah kurang memperhatikan alat, metode, atau kaifiyah; hanya menekankan isi atau penguasaan materi. Padahal, penguasaan materi dakwah (risalah Islam) harus ditunjang oleh teknik penyampaiannya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAHUN baru hijriyah, 1 Muharam 1430 H/29 Desember 2008, akan saya “rayakan” di Kampus STAI Persis (Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam) Bandung dengan mengisi acara pelatihan jurnalistik, digelar HMJ Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Ahad (28/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu antusias menjadi pemateri di acara pelatihan seperti itu, apalagi pesertanya adalah kader-kader dakwah. Selama ini, saya lihat, manajamen dakwah kurang memperhatikan alat, metode, atau kaifiyah; hanya menekankan isi atau penguasaan materi. Padahal, penguasaan materi dakwah (risalah Islam) harus ditunjang oleh teknik penyampaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam komunikasi, menurut para ahli, bukan semata-mata soal apa yang disampaikan, tapi juga bagaimana cara menyampaikannya; bukan hanya soal apa yang dibicarakan (what), tapi juga bagaimana cara membicarakannya (how). Sekadar contoh, banyak khotib kurang memperhatikan how dalam khotbahnya, misalnya terlalu lama dan panjang lebar, gak fokus, sehingga what-nya pun tidak dimengerti jamaah Jumat. Pesan dakwah pun lenyap begitu saja, mungkin ditelan kantuk dan “kesal” jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit orang pinter merasa bingung, bagaimana harus menyampaikan aa yang diketahuinya kepada orang lain. Banyak ahli ilmu, tidak bisa menyebarkan ilmunya, hanya karena tidak bisa menulis atau berbicara di depan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh… jadi ngelantur. Di STAIPI itu saya dipercaya panitia untuk menyampaikan materi penulisan berita koran dan artikel. Panitia minta ada simulasi. Ya, pasti atuh, namanya pelatihan kudu aya praktiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini saya akan sharing ringkasan materi yang akan saya sampaikan dalam pelatihan tersebut, versi ringkasan atau versi “cara cepat menulis berita dan artikel”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Berita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita adalah laporan peristiwa terbaru. Peristiwa lama bukan lagi berita, paling-paling jadi berita basi. Peristiwa yang dilaporkan itulah berita. Berita harus selalu mengandung hal baru. Sebagaimana akar kata berita (news), yakni “new” (baru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan itu berisi 5W+1H, enam unsur yang wajib ada dalam sebuah berita, yakni apa yang terjadi (what, apa), apa penyebabnya atau kenapa terjadi (why, kenapa), kapan kejadiannya (when), di mana (where), siapa yang terlibat dalam kejadian itu atau siapa aktornya (who), dan bagaimana kejadiannya (how).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sebelum dituliskan, kumpukan dulu data-data tersebut (penuhi unsur 5W+1H), cek dan ricek, tabayun, yakinkah semuanya benar dan akurat. Setelah itu, mulailah menulis berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta dan data yang sudah dihimpun dituliskan berdasarkan rumus 5W+1H dengan menggunakan Bahasa Jurnalistik –spesifik= hemat kata, kalimatnya pendek-pendek, baku, dan sederhana; dan komunikatif = jelas, langsung ke pokok masalah (straight to the point), mudah dipahami orang awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi naskah berita terdiri atas Head (Judul), Date Line (Baris Tanggal), yaitu nama tempat berangsungnya peristiwa atau tempat berita dibuat, plus nama media Anda, Lead (Teras) atau paragraf pertama yang berisi bagian paling penting atau hal yang paling menarik, dan Body (Isi) berupa uraian penjelasan dari yang sudah tertuang di Lead.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita diawali oleh judul. Judul berita harus ringkas, menggambarkan isi, tapi berupa kalimat lengkap. Minimal terdiri dari subjek dan predikat, mubtada dan khobar. Contoh, STAIPI Gelar Pelatihan Jurnalistik. STAIPI = Subjek. Gelar = Predikat. Pelatihan Jurnalistik = Objek. Salah kalau judulnya begini: Pelatihan Jurnalistik STAIPI. Itu baru subjek saja; cuma mubtada, khobarnya belum ada. Mestinya, Pelatihan Jurnalistik STAIPI Meriah (atau ‘Garing’? Seru? Heboh? Rusuh?). Baiknya yang tadi itu, STAIPI Gelar Pelatihan Jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul panjang belum tentu benar. Misal, Seminar Pendidikan Nasional di UPI. Itu belum lengkap; baru subjek. Kenapa dengan Seminar Pendidikan Nasional di UPI? Heboh? Sepi? Rusuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, menulis lead atau teras berita, yakni paragraf atau alinea pertama. Rumus termudah dalam menulis kata atau kalimat awal, ikuti salah satu formula ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Who does what, siapa melalukan apa;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Who says what, Siapa mengatakan apa; atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. What does what, apa melakukan apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, teruskan dengan menuliskan unsur di mana (where), kapan (when), mengapa (why), dan bagaimana (how). Tuangkan semuanya, secara ringkas, dalam teras berita. Isi berita, body, merupakan penjelasan atau perincian dari teras berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh: Who Does What&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAN DIY Usung Amien Rais Capres 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai Amanat Nasional (PAN) DI Yogyakarta mencalonkan mantan Ketua Umum DPP PAN Amien Rais sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden 2009. Hal itu ditegaskan pada acara Orientasi Pemenangan Pemilu dan Deklarasi Amien Rais sebagai Capres PAN 2009, Sabtu (27/12), di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua DPW PAN DIY Immawan Wahyudi mengatakan, pencapresan Amien Rais tidak hanya didukung DPW DIY dan DPD PAN se-DIY, tetapi juga aspirasi keluarga besar PAN DIY, seperti Barisan Muda Penegak Amanat Nasional. Alangkah naifnya kalau yang punya bapak reformasi justru tidak mengangkat beliau sebagai capres,” ujar Immawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas pencalonanya itu, Amien Rais menyatakan bersedia, tetapi meminta pendukungnya di PAN realistis melihat situasi politik nasional. “Saya terima dukungan itu. Cuma Anda harus tahu bahwa jalannya memang masih panjang. Bisakah kita mengumpulkan 20 persen kursi di DPR, dan 25 persen suara dari jumlah pemilih, kira-kira kok kita belum nyampai,” ungkap Amien Rais, yang kini menjabat Ketua Majelis Pertimbangan Partai PAN. (www.kompas.co.id).*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8455357203559691449-141717887376949903?l=kpi-staipersis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/feeds/141717887376949903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2009/05/cara-mudah-menulis-berita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/141717887376949903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/141717887376949903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2009/05/cara-mudah-menulis-berita.html' title='Cara Mudah Menulis Berita'/><author><name>HMJ KPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13828611505631743873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='16' src='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Sg7PQuakk9I/AAAAAAAAAEI/csWQTzvhxsk/S220/KPI+SURAT.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8455357203559691449.post-298741184436952198</id><published>2009-04-26T03:51:00.002+07:00</published><updated>2009-04-26T03:57:12.681+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Mahasiswa'/><title type='text'>KARTINI TANPA IBU</title><content type='html'>&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Wanita perkasa itulah sebutan bagi para wanita di Negeri ini yang bekerja dan membanting tulang layaknya lelaki, bahkan tidak jarang pekerjaan yang dikerjakanya melebihi dari kapasitasnya sebagai kaum hawa yang lemah lembut. Sebutlah Srikandi. Entah ini suatu keberhasilan atas mimpi dan cita Kartini, hingga kaum Srikandi ini tidak hanya ada sebagai mantan Presiden, Walikota, Kepala Polisi, dan caleg. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tapi ia juga ada di tempat-tempat yang sangat tidak terduga. Mereka bekerja sebagai supir truk raksasa, menjadi tukang tambal ban, menjadi tukang becak, menjadi tukang ojek dan masih banyak deretan pekerjaan yang lainnya yang memiris keringat dan air mata.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Negeri ini mencoba menjunjung tinggi cita dan mimpi kartini menjadi srikandi. Sang wanita yang gagah dan berani. Hingga di setiap pelosok Negeri ini sorak dan teriakan emansipasi wanita dan kesetaraan gender ramai di bicarakan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tuntutan perjuangkan kemerdekaan sebagai kaum hawa yang selalu dinomorduakan dan dipicingkan mata, dengan pangkat dan label yang membuat gerah dan panas di telinga dan hati mereka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gelar makhluk penggoda, hingga gelar &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;itu tersemat di tubuhnya “Racun Dunia”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Wanita yang selalu digarda belakang. Sebagai tiang penyokong. Karena dibalik kesuksesan pria dibelakangnya ada seorang wanita.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sekarang mereka ingin maju ke depan. Menghantam tembok perbedaan. Tidak mau hanya sebagai tiang negara tapi juga ingin menjadi tombak negara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Terlepas dari boleh dan tidak, tapi mari kita mengevaluasi kembali di hari wanita ini. Apa betul yang telah diraih dan dikerjakan wanita &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sekarang ini telah sesuai dengan cita dan mimpi Kartini. Seperti Menjadi supir truk, menjadi tukang becak, menjadi tukang tambal ban. Inikah kesataraan yang diidamkan seorang wanita. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sekarang bila saja Ibu Kartini masih hidup. menangis atau tertawakah ia?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Isu ini menjadi bias. Apa yang mereka idamkan “hak atau kesataraan”. Berawal dari keinginan mencoba melepas belenggu tradisi yang merugikan wanita. Yang selalu menjadi objek eksploitasi keindahan rayu gombal sang buaya, hingga karier yang terbatas yaitu Dapur. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menelaah kembali mimpi dan cita kartini yang menjadi inspirasi dan semangat para wanita. Apa salahnya? Karena penulis yakin ketika kartini menjadi istri yang keempat dari sang Bupati. Pasti para Srikandi kita langsung mengerutkan dahi akan keengganannya. &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mari kita menjernihkan kembali kebiasan keinginan para Srikandi ibu pertiwi ini. Dan menyimpan dulu apa itu emansipasi dan kestaraan yang mereka usung. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Wanita adalah tiang kehidupan dan tiang negara. Jelas apa jadinya bila semua maju kemedan perang. Pasti Akan ada kekosongan wilayah. Kokoh di hadapan rapuh di belakang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kita pernah mendengar kisah perang Uhud ketika para pemanah menjadi tiang kekuatan. Kemenangan. Maka kemenangan sirna begitu saja ketika mereka (Pemanah) meninggalkan tempatnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Para Srikandi mau tidak mau harus menerima, bahwa gelar “Ibu” itu tersemat telah menjadi kodratnya bagi seluruh wanita. Tapi sayang mereka bersikeras dengan berdalih mimpi kartini dan berhujah emansipasi seolah-olah melegalkan dirinya tuk merubah kodratnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dan terbukti kini banyak Istri yang tidak mau menjadi seorang Ibu. Hingga anak bingung yang mana Ibunya, karena banyak anak kini telah menjadi anak pembantunya. Sekarang para balita Negeri ini tidak pernah lagi merasakan ASI (air susu ibu)-nya sendiri. mereka ganti dengan air susu binatang (sapi) . &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Maka tak aneh jiwa keprimanusian kini perlahan hilang mungkin karena status anak-anak sekarang telah berubah menjadi anak-anak sapi atau binatang. Mungkin itu hanya guyonan sambil lalu. Yang jelas kriminalitas yang terus bertambah di bumi ini itu karena telah kosongnya posisi ibu, sebagai para pendidik. Tangisan anak karena telinganya dijewer Ibunya. Karena mengajarkan tatakrama kehidupan. Kini telah hilang tertelan bumi seiring fungsi ibu tidak berlaku lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Padahal dongeng dan kisah fungsi ibu yang mendidik anak-anaknya dan kehebatannya. Bertebaran dimana-mana. Ingatkah akan dongeng Bagaimana seorang Ibu sanggup merubah anaknya, menjadi apapun. Sekalipun merubahnya menjadi batu . Dan pernahkah kita mendengar kisah kehebatan seorang ibu yang dapat menghentikan kejahatan sang penjahat besar yaitu &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kariyolan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Maka pantasnyalah para Srikandi Negri ini untuk memikirkan dan kembali pulang ke gardanya masing-masing. Yaitu melahirkan tokoh-tokoh hebat. Yaitu Bukhori yang cerdas, &lt;st1:place st="on"&gt;Edison&lt;/st1:place&gt; yang jenius, hingga lahir kembali Ahmad Hasan baru, Moh Natsir yunior dan melahirkan para Panglima dan Pemimpin Negri yang tangguh. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Pesanku untuk para Srikandi. Silahkan untuk menimbang kembali. Akan mimpi dan cita-cita Kartini. Karena tidak pantaslah menjadikan dalih bagi seorang wanita &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, untuk enggan menjadi seorang Ibu. Bahwa Kartini tidak pernah menjadi seorang Ibu. Tapi bukankah itu karena Allah SWT telah terlebih dahulu memulangkan kepangkuaNya. Sebelum ia sempat menimang anaknya yang pertama. Tapi wahai para Srikandi. Patutlah kalian ketahui, bahwa Kartini justru rela mengorbankan nyawanya hanya untuk meraih &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;satu gelar yaitu &lt;b&gt;Ibu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%; font-style: italic;" align="right"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, 21 April 2009&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%; font-style: italic;" align="right"&gt;Rana setiana &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8455357203559691449-298741184436952198?l=kpi-staipersis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/feeds/298741184436952198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2009/04/kartini-tanpa-ibu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/298741184436952198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/298741184436952198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2009/04/kartini-tanpa-ibu.html' title='KARTINI TANPA IBU'/><author><name>HMJ KPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13828611505631743873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='16' src='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Sg7PQuakk9I/AAAAAAAAAEI/csWQTzvhxsk/S220/KPI+SURAT.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8455357203559691449.post-4857151845763875137</id><published>2009-04-14T23:05:00.003+07:00</published><updated>2009-04-14T23:48:44.613+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liputan'/><title type='text'>Laporan Quantum Writing Training (QWT) 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/SeS8XM_FXrI/AAAAAAAAAD0/4xFiv7Ibh0w/s1600-h/CIMG1775.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/SeS8XM_FXrI/AAAAAAAAAD0/4xFiv7Ibh0w/s200/CIMG1775.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324587766267600562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;QUANTUM WRITING TRAINING (QWT) 2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;“Pelajar Islam Terampil menulis;Bumikan Islam Melalui Tulisan”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;b&gt;Bandung&lt;/b&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;b&gt;, 25-28 Desember 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Setelah sukses dengan Quantum Writing Training yang pertama 26-28 Januari 2007, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Persis-Bandung, kembali mengadakan pelatihan menulis bagi pelajar Islam, yang diberi nama “&lt;i&gt;Quantum Writing Training (QWT) 2&lt;/i&gt;” pada tanggal 25-28 Desember 2008 yang bertempat di Lt.2 kampus STAI Persis, Jl. Ciganitri No.2 Cipagalo Kec. Bojongsoang Kab. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Acara pelatihan menulis yang kali ini diberi tema “&lt;i&gt;Pelajar Islam Terampil menulis; Bumikan Islam Melalui Tulisan&lt;/i&gt;”, memang diperuntukan bagi para Pelajar Islam secara umum, baik para santri yang terdaftar di Pesantren Persis maupun para pelajar Islam yang merupakan siswa SMA/Se-Derajat, setelah acara sebelumnya yang hanya melibatkan para santri Pesantren Persis saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Tercatat sebanyak 33 pelajar yang ikut serta dalam pelatihan yang digelar secara intensif selama tiga hari ini, baik yang datang dari Pesantren/Sekolah yang ada di &lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt; maupun luar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Selain dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, ada pula peserta utusan dari Cimahi, Tasikmalaya dan garut. Semua peserta tersebut diasramakan ditempat yang telah disediakan panitia. Menurut salah seorang panitia, Dhanyawan H, langkah tersebut untuk memberikan pelatihan yang intensif dan semoga bisa memberikan kedekatan lebih akrab diantara para peserta. ”&lt;i&gt;Seperti pada tahun sebelumnya, acara ini menentukan bagi semua peserta untuk tinggal di asrama, baik yang jauh maupun yang dekat. Selain alasan jarak bagi sebagian peserta yang jauh, acara ini memang sengaja di-set supaya bisa memberikan pelatihan yang intensif dan semoga bisa memberikan kedekatan dan pertemanan yang lebih akrab di antara para pesertanya, dan dapat berdiskusi tentang penulisan dan lainnya selepas acara selesai&lt;/i&gt;”, begitu ungkapnya.&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Untuk mendukung dan mensukseskan acara tersebut, panitia mengundang beberapa pemateri untuk mengisi dan memberikan pelatihan intensif. Di antara narasumber yang diundang dan hadiradalah: A.S.M. Ramli atau dikenal Kang Romel* (Penulis), Eryanti Nurmaladewi (Republika), Drs. H. Anwaruddin (IKAPI Jabar), Roni Tobroni (Penulis), Utusan Penerbit, dan Jaka Sapta Wijaya (Mahasiswa STAI Persis Jurusan KPI). Secara keseluruhan acara terbagi pada tujuh &lt;i&gt;session.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;i&gt;*Materi sudah dimuat di blog KPI&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;i&gt;(Sekretaris QWT 2)&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8455357203559691449-4857151845763875137?l=kpi-staipersis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/feeds/4857151845763875137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2009/04/laporan-quantum-writing-training-qwt-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/4857151845763875137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/4857151845763875137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2009/04/laporan-quantum-writing-training-qwt-2.html' title='Laporan Quantum Writing Training (QWT) 2'/><author><name>HMJ KPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13828611505631743873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='16' src='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Sg7PQuakk9I/AAAAAAAAAEI/csWQTzvhxsk/S220/KPI+SURAT.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/SeS8XM_FXrI/AAAAAAAAAD0/4xFiv7Ibh0w/s72-c/CIMG1775.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8455357203559691449.post-7109619667014781266</id><published>2009-04-14T22:00:00.003+07:00</published><updated>2009-04-14T22:09:33.979+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Cara Mudah Menulis Berita &amp; Artikel</title><content type='html'>&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Mudah Menulis Berita &amp; Artikel&lt;br /&gt;(Oleh: romeltea)&lt;br /&gt;Menulis Berita&lt;br /&gt;Berita adalah laporan peristiwa terbaru. Peristiwa lama bukan lagi berita, paling-paling jadi berita basi. Peristiwa yang dilaporkan itulah berita. Berita harus selalu mengandung hal baru. Sebagaimana akar kata berita (news), yakni “new” (baru).&lt;br /&gt;Laporan itu berisi 5W+1H, enam unsur yang wajib ada dalam sebuah berita, yakni apa yang terjadi (what, apa), apa penyebabnya atau kenapa terjadi (why, kenapa), kapan kejadiannya (when), di mana (where), siapa yang terlibat dalam kejadian itu atau siapa aktornya (who), dan bagaimana kejadiannya (how).&lt;br /&gt;Jadi, sebelum dituliskan, kumpukan dulu data-data tersebut (penuhi unsur 5W+1H), cek dan ricek, tabayun, yakinkah semuanya benar dan akurat. Setelah itu, mulailah menulis berita.Fakta dan data yang sudah dihimpun dituliskan berdasarkan rumus 5W+1H dengan menggunakan Bahasa Jurnalistik –spesifik= hemat kata, kalimatnya pendek-pendek, baku, dan sederhana; dan komunikatif = jelas, langsung ke pokok masalah (straight to the point), mudah dipahami orang awam.&lt;br /&gt;Komposisi naskah berita terdiri atas Head (Judul), Date Line (Baris Tanggal), yaitu nama tempat berangsungnya peristiwa atau tempat berita dibuat, plus nama media Anda, Lead (Teras) atau paragraf pertama yang berisi bagian paling penting atau hal yang paling menarik, dan Body (Isi) berupa uraian penjelasan dari yang sudah tertuang di Lead.&lt;br /&gt;Berita diawali oleh judul. Judul berita harus ringkas, menggambarkan isi, tapi berupa kalimat lengkap. Minimal terdiri dari subjek dan predikat, mubtada dan khobar. Contoh, STAIPI Gelar Pelatihan Jurnalistik. STAIPI = Subjek. Gelar = Predikat. Pelatihan Jurnalistik = Objek. Salah kalau judulnya begini: Pelatihan Jurnalistik STAIPI. Itu baru subjek saja; cuma mubtada, khobarnya belum ada. Mestinya, Pelatihan Jurnalistik STAIPI Meriah (atau ‘Garing’? Seru? Heboh? Rusuh?). Baiknya yang tadi itu, STAIPI Gelar Pelatihan Jurnalistik.&lt;br /&gt;Judul panjang belum tentu benar. Misal, Seminar Pendidikan Nasional di UPI. Itu belum lengkap; baru subjek. Kenapa dengan Seminar Pendidikan Nasional di UPI? Heboh? Sepi? Rusuh?&lt;br /&gt;Setelah itu, menulis lead atau teras berita, yakni paragraf atau alinea pertama. Rumus termudah dalam menulis kata atau kalimat awal, ikuti salah satu formula ini:&lt;br /&gt;1. Who does what, siapa melalukan apa;&lt;br /&gt;2. Who says what, Siapa mengatakan apa; atau&lt;br /&gt;3. What does what, apa melakukan apa.&lt;br /&gt;Setelah itu, teruskan dengan menuliskan unsur di mana (where), kapan (when), mengapa (why), dan bagaimana (how). Tuangkan semuanya, secara ringkas, dalam teras berita. Isi berita, body, merupakan penjelasan atau perincian dari teras berita.&lt;br /&gt;Contoh: Who Does What&lt;br /&gt;PAN DIY Usung Amien Rais Capres 2009&lt;br /&gt;Partai Amanat Nasional (PAN) DI Yogyakarta mencalonkan mantan Ketua Umum DPP PAN Amien Rais sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden 2009. Hal itu ditegaskan pada acara Orientasi Pemenangan Pemilu dan Deklarasi Amien Rais sebagai Capres PAN 2009, Sabtu (27/12), di Yogyakarta.&lt;br /&gt;Ketua DPW PAN DIY Immawan Wahyudi mengatakan, pencapresan Amien Rais tidak hanya didukung DPW DIY dan DPD PAN se-DIY, tetapi juga aspirasi keluarga besar PAN DIY, seperti Barisan Muda Penegak Amanat Nasional. Alangkah naifnya kalau yang punya bapak reformasi justru tidak mengangkat beliau sebagai capres,” ujar Immawan.&lt;br /&gt;Atas pencalonanya itu, Amien Rais menyatakan bersedia, tetapi meminta pendukungnya di PAN realistis melihat situasi politik nasional. “Saya terima dukungan itu. Cuma Anda harus tahu bahwa jalannya memang masih panjang. Bisakah kita mengumpulkan 20 persen kursi di DPR, dan 25 persen suara dari jumlah pemilih, kira-kira kok kita belum nyampai,” ungkap Amien Rais, yang kini menjabat Ketua Majelis Pertimbangan Partai PAN.&lt;br /&gt;Enam Jurus Menulis Artikel&lt;br /&gt;Kunci sukses menulis itu niat, motivasi, lalu latihan. Niat itulah yang memunculkan mood menulis. Wadah latihan menulis antara lain blog. Buat blog, lalu tulis apa saja yang penting sekiranya bermanfaat bagi orang lain. Ingat, nulis di blog jangan sama bener sama nulis di buku harian. ‘Cause, blog tu kan dibaca orang. Jadi, tulislah apa pun dengan kesadaran tulisan Anda dikonsumsi publik. Di blog, kita berkomunikasi tulisan dengan publik. Komunikasi massa juga, namun sifatnya personal.&lt;br /&gt;Ringkasan teknis menulis atau cara cepat menulis itu sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Temukan ide, tema, lalu buatlah judul sementara.&lt;br /&gt;2. Kembangkan ide/tema dengan baca referensi sebanyak mungkin. Mandeg saat menulis? Pati kurang referensi atau bahan ‘kan?&lt;br /&gt;3. Buat outline, garis besar tulisan, lalu simpan.&lt;br /&gt;4. Lupan sejenak outline, tulis saja apa yang mau disampaikan dalam tulisan itu. Tulis saja apa yang ada di hati/pikiran soal tema tersebut. Bebas, abaikan dulu data akurat dan ejaan, nulis saja lah. Just write! Free writing! Do it as rapidly as you can!&lt;br /&gt;5. Tulis ulang. A good writer is also good rewriter. Rapikan konten/isi tulisan dan sesuaikan dengan outline.&lt;br /&gt;6. Edit, rapikan redaksional tulisan –ejaan, kalimat, tanda baca. Pastikan tiap penulisan kata sudah benar, penulisannya juga udah esuai dengan EYD, bermakna, dan tiap kalimat logis. Wis, gitu deh…&lt;br /&gt;Masih bingung? Coba latih kemampuan menulis Anda dengan menjawab secara tertulis pertanyaan di bawah ini;&lt;br /&gt;1. Mau nulis apa, sebutkan tema!&lt;br /&gt;2. Soal apanya? Sempitkan tu tema!&lt;br /&gt;3. Kenapa milih tema itu? Emangnya aktual? Penting? Tulis alasannya.&lt;br /&gt;4. Truz…. Apa yang mau dikemukakan? Pendapat Anda tentang hal itu bagaimana? (Mau ngutip pendapat orang? Boleh… sebutkan sumbernya!).&lt;br /&gt;5. Udah kan….? Gampang kok! Peserta kedua diklat menulis yang saya ceritakan di atas udah membuktikannya, nulis itu gampang kok, asal niat! Benar kan pak. bu, akang, teteh?&lt;br /&gt;Struktur artikel di media massa: judul, nama penulis, intro/pembuka, bridge/penghubung antara intro dan bahasan, lalu bahasan (biasanya per subjudul, 2-3 tiga subjudul, biar fokus, and finally penutup/kesimpulan. Info lengkapnya baca lagi deh : “Faidah dan Kaifiyah Menulis”. Cari aja di search engine, ada kok.&lt;br /&gt;Tulisan untuk media massa, jangan gunakan gaya menulis blog kayak saya nulis ini, tapi gunakan bahasa tulisan, bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku bersadarkan Pancasila dan UUD ’45 (?). Wasalam. (www.romeltea.com).*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8455357203559691449-7109619667014781266?l=kpi-staipersis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/feeds/7109619667014781266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2009/04/cara-mudah-menulis-berita-artikel_1280.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/7109619667014781266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/7109619667014781266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2009/04/cara-mudah-menulis-berita-artikel_1280.html' title='Cara Mudah Menulis Berita &amp;amp; Artikel'/><author><name>HMJ KPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13828611505631743873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='16' src='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Sg7PQuakk9I/AAAAAAAAAEI/csWQTzvhxsk/S220/KPI+SURAT.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8455357203559691449.post-1381644989979563558</id><published>2008-01-10T02:47:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T03:04:07.517+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Jangan Memberhalakan ”Multikulturalisme”!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;br /&gt;Di era globalisasi dan westernisasi saat ini, ”multikulturalisme” tampaknya sudah dianggap sebagai paham ideal yang harus diterima masyarakat. Seperti paham-paham modern lain, demokrasi, liberalisme, pluralisme, kesetaraan gender, dan sebagainya, multikulturalisme juga diwajibkan – oleh penguasa dunia, entah siapa makhluknya – untuk dipeluk oleh semua orang. Tidak peduli, apakah dia pejabat, dosen, artis, atau dai. Semua harus multikulturalis, menganut paham multikulturalisme.Maka, sudah beberapa tahun belakangan ini, kita mendengar banyak sekali pimpinan pesantren, dosen, mahasiswa, dan berbagai kalangan masyarakat yang ditraining paham multikulturalisme. Menurut mereka, dengan memeluk paham ini, kita bisa selamat dan membawa kemaslahatan. Tanpa banyak terekspose oleh media massa, pada 11 Desember 2007 lalu, Badan Litbang Departemen Agama mengumumkan hasil penelitiannya tentang “Pemahaman Nilai-nilai Multikultural Para Da’i”.Hasil penelitian ini sangat penting untuk kita cermati, karena menyangkut masalah pemahaman keagamaan para dai, baik fakta maupun Sebelum kita melihat hasil penelitian Depag tersebut, kita simak dulu apa definisi multikulturalisme yang dijadikan acuan oleh Depag. Pada bagian Latar Belakang, dijelaskan pernyataan Ketua Balitbang Depag, Atho Mudzhar, bahwa selain dapat menjadi faktor integrasi, agama juga dapat menjadi faktor dis-integrasi.Agama sebagai faktor disintegrasi bangsa Indonesia, dapat dilihat pada terjadinya konflik keagamaan – bahkan sampai saat ini – di beberapa daerah di Indonesia. “Konflik ini salah satunya disebabkan oleh adanya pemahaman keberagamaan masyarakat yang masih eksklusif. Pemahaman ini dapat membentuk pribadi yang antipati terhadap pemeluk agama lain. Pribadi yang selalu merasa hanya agama dan alirannya saja yang paling benar sedangkan agama dan aliran lainnya adalah salah dan dianggap sesat,” demikian kutipan paparan pendahuluan hasil penelitian tersebut.Sampai pada kalimat tersebut, kita semua -- juga para pejabat Litbang Depag -- patut merenung. Benarkah seperti itu? Bahwa konflik agama terjadi karena pemeluk agama meyakini kebenaran agamanya sendiri? Kita menjawab, bahwa asumsi itu sangat tidak benar. Kaum beragama saat ini harusnya berpikir ulang, bahwa mereka sedang dalam posisi dijadikan kambing hitam atas berbagai konflik yang terjadi, seolah-olah konflik-konflik itu terjadi karena urusan agama. Padahal, berapa persen yang sebenarnya masalah agama? Perlu kita catat, bahwa korban kekerasan terbesar di dunia ini adalah masyarakat sipil yang diperangi atas nama kebebasan dan demokrasi. Kita tidak menafikan ada konflik bermotif agama atau bernuansa agama. Tapi, marilah kita teliti dengan cermat, apakah konflik-konflik itu terjadi karena umat beragama memiliki pemahaman eksklusif bahwa hanya agamanya sendiri yang benar?Dalam berbagai kesempatan, masalah truth claim (klaim kebenaran) ini sering dijadikan sebagai kambing hitam terjadinya konflik antar agama, sehingga pemeluk agama dianjurkan melepaskan kliam kebenaran atas agamanya masing-masing. Tentu saja, ini sangat mustahil, kecuali bagi orang-orang yang memang sudah bosan beragama. Simaklah sebuah buku menarik berjudul ”Hindu Agama Terbesar di Dunia” terbitan Media Hindu (2006). Judul buku itu merupakan terjemah dari artikel berjudul ”Hinduism, the Greatest Religion in the World,” karya Satguru Sivaya Subramuniyaswami di majalah Hinduism Today edisi Februari/Maret/April 2000. Tulisan itu merupakan respon terhadap seruan Paus John Paul II kepada para Uskup dan orang-orang Katolik untuk mengkoversi orang-orang Hindu di India, dalam pidatonya di New Delhi tanggal 25 Desember 1999, tepat saat umat Hindu merayakan hari suci mereka, Depavali.Tulisan ini berusaha menanamkan keyakinan dan kebanggaan kepada para pemeluk agama Hindu terhadap agama mereka, dengan menggambarkan bahwa: ”Seorang disebut manusia besar bukan karena tubuhnya gede, tetapi karena karakternya, karena sumbangannya kepada masyarakatnya. Secara kuantitas pemeluk Hindu bila digabung dengan ”anak-anaknya” berjumlah 1,5 milyar, lebih besar dari Islam. Dan ingat, Hindu bukanlah agama missi yang agresif seperti Kristen atau Islam. Tetapi kebesaran Hindu terletak pada karakternya, sumbangannya pada peradaban. Dan dalam membangun budaya dan peradaban, Hindu tidak pernah menghancurkan budaya dan peradaban yang sudah ada. Sebaliknya Hindu melindungi, memeliara, dan bahkan mengembangkan mereka.” (bagian pengantar oleh Ngakan Made Madrasuta).Kita tentu menghormati keyakinan kaum Hindu semacam itu dan tidak perlu menyatakan bahwa keyakinan semacam itu adalah sumber konflik. Bagi orang yang serius mau beragama, tentu dia memeluk agama tertentu karena meyakini ada hal-hal yang unik dalam agamanya. Dia yakin agamanya benar. Dia yakin agamanya akan mengantarkannya ke jalan keselamatan. Untuk apa dia beragama kalau tidak yakin? Karena itulah, kaum Hindu juga tidak rela umat mereka dijadikan sasaran misi Kristen. Tentu sangat aneh, jika ada orang masih mengaku Muslim, tetapi lebih percaya kepada Bibel ketimbang al-Quran. Juga aneh kalau orang masih tetap mengaku Kristen tetapi lebih meyakini al-Quran ketimbang Bibel.”Multikulturalisme sejati” seharusnya tidak menggerus keyakinan eksklusif masing-masing agama. Justru menghormati adanya keyakinan yang beragam itulah makna sejati dari mengakui keberagaman, bukan menggerus keyakinan masing-masing agama dan menggantinya dengan satu berhal baru bernama ”multikulturalisme”. Mengapa kita sebut dengan ”berhala”, sebab paham ini sepertinya diterima dan ditelan begitu saja tanpa sikap kritis. Kaum muslim dijejali dengan paham-paham semacam ini, yang tujuannya sudah jelas – seperti ditulis dalam laporan penelitian Depag ini – yaitu menggerus keyakinan beragama kaum Muslim.Pakar Pluralisme Agama, Dr. Anis Malik Thoha, berulang kali menyebutkan, bahwa salah satu watak jahat paham Pluralisme Agama adalah sikapnya yang otoriter yang mau membuang semua keyakinan dan menggantikannya dengan satu ”Teologi Universal”. Pernyataan Dr. Anis itu sering terbukti di lapangan. Kita sering melihat, bagaimana orang-orang yang mengaku pluralis marah-marah dan memaki-maki MUI karena mengeluarkan fatwa bahwa menghadiri Perayaan Natal Bersama adalah haram. Jika dia pluralis atau multikulturalis, maka seharusnya dia menghormati pendapat dan keyakinan MUI, bukan memaksakan pendapatnya sendiri yang benar. Kita makin heran melihat, bagaimana kadangkala mereka mengeluarkan sumpah serapahnya, hanya karena kita tidak mau mengikuti paham-paham sekular dan liberal Barat.Jika paham multikulturalisme semacam ini yang dijadikan acuan untuk dipeluk umat beragama di Indonesia, maka alangkah kelirunya penelitian Litbang Departemen Agama tersebut. Dalam laporan penelitian setebal 24 halaman ini, kita juga mendapati sejumlah indikator yang aneh, yang dijadikan sebagai parameter untuk menilai kualitas pemahaman dan sikap ”multikulturalisme” para dai, apakah sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik, dan sangat kurang baik.Misalya, hasil penelitian menunjukkan, bahwa pemahaman para dai terhadap nilai-nilai multikulturalisme pada dimensi kesetaraan dinilai ”cukup baik”, karena para dai itu percaya bahwa ada agama lain yang merupakan agama samawi dan meyakini bahwa Yahudi dan Kristen sekarang ini adalah ahlul kitab.Kita tidak mempersoalkan hasil penelitian ini. Tapi, mengapa indikator yang dipilih adalah hal-hal semacam itu? Bagi Muslim, maka tidak ada salahnya jika meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama samawi. Begitu juga soal pandangan tentang Ahlul Kitab. Banyak sekali pandangan ulama tentang masalah ini. Jadi, sangat naif untuk menilai seseorang dai itu berpaham multikulturalis atau tidak berdasarkan pemahamannya terhadap agama samawi dan Ahlul Kitab.Pada bagian hasil penelitian tentang ”Perasaan Da’i terhadap Nilai-nilai Multikultural” ditemukan, bahwa tidak sampai seperempat dari jumlah dai yang menjadi responden dalam penelitian ini yang memiliki perasaan terhadap nilai-nilai multikultural yang cukup baik sampai baik. Para dai yang diteliti ternyata merasa kurang nyaman bertetangga dengan orang yang berbeda agama, tetapi cukup baik nilai mereka dalam soal kesenangan berteman dengan orang yang berbeda agama. Para dai itu rata-rata juga merasakan perlunya UU Penyiaran Agama untuk mengurangi konflik antar umat beragama. Mereka juga rata-rata tidak suka jika penganut agama lain menyebarkan agama kepada orang yang sudah beragama.Pada bagian ”Kecenderungan Perilaku Da’i terhadap Nilai-nilai Multikultural” ditemukan hasil yang buruk dalam beberapa hal berikut: (1) dalam soal penerimaan terhadap perkawinan berbeda agama, (2) penerimaan terhadap orang yang berbeda agama untuk mengajar anak di sekolah, (3) penerimaan terhadap orang yang berbeda agama dalam melakukan kegiatan di daerah Muslim, dan (4) penerimaan terhadap orang yang berbeda agama untuk membangun rumah ibadah di daerah Muslim.Diantara kesimpulan dari hasil penelitian ini ialah: ”Ketidakpahaman dan ketidaknyamanan para dai terhadap nilai kesetaraan berpengaruh pada kecenderungan penerimaan dai terhadap nilai kesetaraan. Walaupun mereka cenderung akan berperilaku setara dengan cara menerima orang yang berbeda agama dengan cara berteman dan bertetangga, tetapi mereka tidak akan menerima perkawinan berbeda agama. Mereka cenderung akan berperilaku adil dalam hal memberikan kesempatan kepada orang yang berbeda agama mengeluarkan pendapat, tetapi cenderung tidak akan memberikan kesempatan kepada teman lain yang berbeda agama untuk bersama-sama melakukan ibadah sesuai dengan agama masing-masing. Bahkan, cenderung akan menolak orang yang berbeda agama mengajar anak mereka di sekolah, orang yang berbeda agama mengadakan kegiatan di daerah muslim dan orang yang berbeda agama membangun rumah ibadah di daerah muslim. Mereka juga cenderung tidak akan menghargai orang yang berbeda agama. Karena itu, mereka tidak akan mendoakan orang yang berbeda agama untuk mendapatkan kebaikan dan keselamatan serta tidak akan mengucapkan selamat kepada orang yang berbeda agama pada saat mendapat kegembiraan.”Terhadap fenomena rendahnya pemahaman dan sikap multikulturalisme para dai, maka direkomendasikan (1) agar disosialisasikan kepada para dai tentang materi-materi hubungan antar agama yang didasarkan pada ayat-ayat al-Quran yang mengandung penekanan terhadap prinsip-prinsip kesetaraan, misalnya penggunaan istilah ahli kitab (ahl al-kitab) yang digunakan al-Quran antara lain sebagai ungkapan penghargaan yang tinggi karena mereka berpegang pada ketuhanan yang monoteistik, (2) Ketidaknyamanan para dai bertetangga dengan orang yang berbeda agama berkaitan erat dengan pemahaman mereka terhadap nilai kesetaraan. Untuk merubah ketidaksukaan betetangga dengan orang yang berbeda agama, para dai perlu diyakinkan bahwa Islam tidak melarang untuk bertetangga dengan orang yang berbeda agama. (3) Kecenderungan perilaku dai terhadap nilai-nilai multikultural yang tergolong kurang baik diperlukan adanya kegiatan-kegiatan yang bersifat interaksi antara pada dai dan orang-orang yang berbeda agama dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial kemasyarakatan.Apa pun hasil penelitian ini, kita melihat, tampaknya saat ini, untuk menentukan seorang dai itu baik atau buruk sudah digunakan parameter baru, yakni parameter keimanan para dai terhadap paham ”Multikulturalisme”; dan bukan lagi menggunakan parameter: ”Syar’iy atau tidak Syar’iy”, ”Halal atau Haram”, ”Haq atau Bathil”, ”Bid’ah atau Sunnah”, ”Iman atau Syirik”. Jika demikian halnya, ini sama saja telah memberhalakan paham ”Multikulturalisme”.Sebagai cendekiawan, seyogyanya para peneliti tidak terburu-buru menerima begitu saja paham-paham baru – seperti Multikulturalisme – tanpa menilainya dengan standar pandangan hidup Islam (Islamic worldview). Menyimak indikator-indikator yang digunakan untuk meneliti tingkat ”kemultikulturalan” seorang dai, tampak jelas, paham ini memang justru bermasalah. Jadi, semestinya Islam-lah yang menilai paham Multikulturalisme. Bukan sebaliknya, Islam dan kaum Muslim justru dinilai dengan kacamata Multikulturalisme. Wallahu a’lam. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.hidayatullah.com/"&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;www.hidayatullah.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;].&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8455357203559691449-1381644989979563558?l=kpi-staipersis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/feeds/1381644989979563558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2008/01/jangan-memberhalakan-multikulturalisme.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/1381644989979563558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/1381644989979563558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2008/01/jangan-memberhalakan-multikulturalisme.html' title='Jangan Memberhalakan ”Multikulturalisme”!'/><author><name>HMJ KPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13828611505631743873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='16' src='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Sg7PQuakk9I/AAAAAAAAAEI/csWQTzvhxsk/S220/KPI+SURAT.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8455357203559691449.post-8815089628202778492</id><published>2008-01-10T02:22:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T04:37:16.509+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='more than word'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/R4UizjsnokI/AAAAAAAAABk/8rpeBR2fWP0/s1600-h/CA3ILG1F.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153563617746461250" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/R4UizjsnokI/AAAAAAAAABk/8rpeBR2fWP0/s200/CA3ILG1F.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/R4UizjsnolI/AAAAAAAAABs/Q7w3GvZBIl0/s1600-h/CA45QROR.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153563617746461266" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/R4UizjsnolI/AAAAAAAAABs/Q7w3GvZBIl0/s200/CA45QROR.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;strong&gt;membenci dan mencintai sama sakitnya (Jewel in the Palace)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;pengetahuan bisa menghambat, ketidaktahuan justru membebaskan. Tahu kapan untuk tau dan tidak tahu sama pentingnya dengan pedang yang tajam (suzume-no-kumo 1439)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;detik kini bukan detik yang lalu semua baru dan baru. tahukah ia berdetak semenjak teriakannya inilah awal yang baru hingga ia terus bertindak berawal dai yang baru. (Rana Setiana)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;kita lahir sebagai sebagai suatu eberuntungan, atau karena satu keberuntungalah kita dilahirkan. (Zouko - Avatar The Last Airbender)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Harapan adalah sesuatu yang kau bangun sendiri (Jendral Iroh - Avatar The Last Airbender)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8455357203559691449-8815089628202778492?l=kpi-staipersis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/feeds/8815089628202778492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2008/01/membenci-dan-mencintai-sama-sakitnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/8815089628202778492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/8815089628202778492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2008/01/membenci-dan-mencintai-sama-sakitnya.html' title=''/><author><name>HMJ KPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13828611505631743873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='16' src='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Sg7PQuakk9I/AAAAAAAAAEI/csWQTzvhxsk/S220/KPI+SURAT.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/R4UizjsnokI/AAAAAAAAABk/8rpeBR2fWP0/s72-c/CA3ILG1F.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8455357203559691449.post-3125752525980991817</id><published>2007-08-15T15:11:00.001+07:00</published><updated>2008-12-10T04:37:17.114+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Surat Cinta Untuk Aa Gym</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/RsK5GLV7rhI/AAAAAAAAAA0/fz6ojzfj3Do/s1600-h/aa+gym.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098841243911958034" style="FLOAT: right; MARGIN: 0pt 0pt 10px 10px; CURSOR: pointer" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/RsK5GLV7rhI/AAAAAAAAAA0/fz6ojzfj3Do/s320/aa+gym.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Judul&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;: Ketika Aa Gym Kehilangan Hati&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;( Surat Cinta Dari Hati Yang Terluka)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Penulis&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;: Ummu al-Ghifari&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Terbitan&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;: Mujahid Press, Februari 2007&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Jumlah halaman&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;: 142 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:18;"&gt;&lt;br /&gt;Surat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:18;"&gt; Cinta Untuk Aa Gym&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;Resensor: Dh. Haflah*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Mengapa harus ketika Aa Gym yang mempraktekan Poligami, ketika itu pula muncul permasalahan sekitar Poligami tersebut. Padahal, besar kemungkinannya jauh hari sebelum Aa Gym berpoligami, bahkan hingga sesaat sebelum Aa Gym putuskan untuk berpoligami dan media pun meng-ekspose-nya, ada dari kalangan suami yang memutuskan untuk membawa madu lain kerumah atau berpoligami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Salah satu alasan yang mungkin bisa diterima adalah karena Aa Gym merupakan seorang Figur, yang selama ini berperan sebagai penunjuk “Pengobat” hati. Namun kini beliau harus berurusan dengan hati, terutama hati perempuan yang berperan sebagai seorang istri yang merasa bahwa, sebagaimana seorang figur, tokoh yang mau tidak mau menjadi panutan dan rujukan dalam berbagai aktifitas, langkah yang ditempuhnya pun dipandang sebagai hal yang bisa dijadikan landasan bagi kaum laki-laki untuk mengikuti sang tokoh dan para suami seolah mendapatkan angin segar untuk melegalkan keinginannya untuk berpoligami. Setidaknya itulah yang diungkap di dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Ternyata tidak cukup dengan satu minggu sebagaimana yang diinginkan dan diamanatkan oleh Aa Gym, untuk tidak lebih lanjut mepermasalahkan langkah yang diambilnya ini, melihat masih banyak yang perlu dipikirkan. Terbukti dengan masih diproses dan diterbitkannya buku yang berkaitan dengan poligami Aa Gym.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Bukan masalah hukum syar`i yang dipermaslahkan di dalam buku ini, mengingat sang penulis, Ummu al-Ghifari merupakan aktivis da`wah dan dibesarkan dilingkungan dakwah serta saat ini berperan sebagai Guru. Namun, dalam penulisan buku ini, sesuai dengan ajaran yang sering dibawakan oleh Pribadi Aa Gym yang dikenal dengan trademark-nya, yaitu Hati. Penulis yang menyerap ajaran dan nasihat yang diberikan Aa Gym ini&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;merasa mendapatkan hal yang bertentangan dengan hati&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;itu sendiri, terutama hati seorang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Lewat buku ini, penulis menyajikan semacam ketidak-siapan dari seorang wanita menghadapi poligami, dan memang buku ini ditujukan untuk para wanita yang tidak menginginkan kehilangan hari-harinya bersama sang suami, sehingga peraduannya ditinggal sang suami yang mengakibatkannya sendiri dalam sepi. Selain itu, penulis juga menyatakan bahwa tulisan ini berlandaskan segala kepedihan atas derita Kaum hawa, dan mengajak untuk mnegenyahkan segala bentuk “racun” yang berbungkus “madu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Penulis menyampaikan pikiran-pikiran tersebut yang di “Ya” kan , bahwa bukan masalah syari`at, tetapi model poligami yang terjadi sekarang ini dipandang tidak sesuai dengan syariat yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Poligami sekarang lebih tertuju kepada pe-“Manfaat”-an alasan syar`i poligami yang dijadikan “Kojo” untuk berpoligami. Bahkan iming-iming syurga bagi wanita yang mau dimadu pun, penulis buku ini pun mencoba mengupasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Penulis memandang langkah yang diambil oleh Aa Gym tersebut menyulut api hati yang dinyalakan sendiri oleh Aa Gym. Perbuatan yang dianggap melukai haum hawa atas apa yang diperbuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Hati, sebagaimana diketahui, tidaklah akan sama perasaan hati seorang wanita dengan wanita yang lainnya. Tetapi terlepas dari itu, penulis mengungkapkan perasaan hatinya sendiri yang merasa terbebani melalui kata-kata yang tercurah berbentuk “surat cinta”, meminta pertanggungjawaban dari sang tokoh atas ucapannya sendiri yang dikutif ke dalam salah satu bagian buku tersebut, bahwa menikmati kehidupan dengan membebani orang lain adalah hidup tidak mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Namun masih tersisa pertanyaan, berbagai alasan dan pernyataan yang diungkap dalam buku ini dinyatakan sebagai ungkapan yang mewakili perasaan kaum Hawa. Benarkah semua kaum hawa mengalami hal itu, mengedepankan perasaannya tanpa menghiraukan syari`at dalam menghadapi praktek poligami ini?. Bisakah kita mengedepankah perasaan untuk menghadapi syari`at-syari`at yang telah ditetapkan oleh Allah?. Dan satu catatan pula bagi para pelaku poligami dan yang berniat untuk berpoligami untuk lebih memperhatikan keadaan yang melingkupi perasaan seorang perempuan dan yang lainnya, bukan hanya kepentingan pribadi. Mungkin pula semua hal yang diungkap dalam buku ini tentang kenyataan poligami, benar begitu adanya. Wallahu a`lamu bi al-Showab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: right" align="right"&gt;Resensor, Mahasiswa Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: right" align="right"&gt;Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Persatuan Islam&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: right" align="right"&gt;Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8455357203559691449-3125752525980991817?l=kpi-staipersis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/feeds/3125752525980991817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/08/surat-cinta-untuk-aa-gym.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/3125752525980991817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/3125752525980991817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/08/surat-cinta-untuk-aa-gym.html' title='Surat Cinta Untuk Aa Gym'/><author><name>HMJ KPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13828611505631743873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='16' src='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Sg7PQuakk9I/AAAAAAAAAEI/csWQTzvhxsk/S220/KPI+SURAT.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/RsK5GLV7rhI/AAAAAAAAAA0/fz6ojzfj3Do/s72-c/aa+gym.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8455357203559691449.post-2647743593894052893</id><published>2007-07-25T10:26:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T04:37:17.239+07:00</updated><title type='text'>SEJARAH PERKEMBANGAN RETORIKA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/RqbDYbV7rfI/AAAAAAAAAAk/KhpEr9TQzjY/s1600-h/jackraider.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/RqbDYbV7rfI/AAAAAAAAAAk/KhpEr9TQzjY/s320/jackraider.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5090971253212950002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;by : &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;jaka 05.0217.15&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Objek studi retorika &lt;/span&gt;setua kehidupan manusia. &lt;span lang=""&gt;Kefasihan &lt;/span&gt;bicara mung­kin pertama kali dipertunjukkan dalam &lt;span lang=""&gt;upacara adat: &lt;/span&gt;kelahiran, &lt;span lang=""&gt;kema­tian, lamaran, perkawinan, &lt;/span&gt;dan sebagainya. Pidato &lt;span lang=""&gt;disampaikan &lt;/span&gt;oleh orang yang mempunyai status &lt;span lang=""&gt;tinggi. &lt;/span&gt;Dalam &lt;span lang=""&gt;perkembangan peradaban &lt;/span&gt;pidato &lt;span lang=""&gt;melingkupi &lt;/span&gt;bidang yang lebih &lt;span lang=""&gt;luas. "Sejarah &lt;/span&gt;manusia", kata &lt;span lang=""&gt;Lewis Copeland &lt;/span&gt;dalam kata &lt;span lang=""&gt;pengantar bukunya &lt;/span&gt;tentang pidato &lt;span lang=""&gt;tokoh-tokoh &lt;/span&gt;besar dalam &lt;span lang=""&gt;sejarah, "terutama &lt;/span&gt;sekali adalah &lt;span lang=""&gt;catatan &lt;/span&gt;peristiwa penting yang &lt;span lang=""&gt;dramatis, &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;seringkali &lt;/span&gt;disebabkan oleh pidato-pidato besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Sejak &lt;span lang=""&gt;Yunani &lt;/span&gt;dan Roma sampai zaman kita &lt;span lang=""&gt;sekarang, &lt;/span&gt;kepandaian pidato dan &lt;span lang=""&gt;kenegarawanan selalu &lt;/span&gt;berkaitan. Banyak &lt;span lang=""&gt;jago pedang &lt;/span&gt;juga ter­kenal dengan &lt;span lang=""&gt;kefasihan bicaranya &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;menawan&lt;/span&gt;".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Uraian sistematis retorika &lt;/span&gt;yang pertama &lt;span lang=""&gt;diletakkan &lt;/span&gt;oleh orang Syracuse, sebuah &lt;span lang=""&gt;koloni &lt;/span&gt;Yunani di Pulau &lt;span lang=""&gt;Sicilia. Bertahun&lt;/span&gt;-tahun&lt;span lang=""&gt; koloni &lt;/span&gt;itu &lt;span lang=""&gt;diperintah &lt;/span&gt;para &lt;span lang=""&gt;tiran. Tiran, &lt;/span&gt;di mana pun dan pada zaman apa pun, senang &lt;span lang=""&gt;menggusur &lt;/span&gt;tanah rakyat. &lt;span lang=""&gt;Kira-kira &lt;/span&gt;tahun 465 &lt;span lang=""&gt;SM, &lt;/span&gt;rakyat &lt;span lang=""&gt;melancarkan revolusi. Diktator ditumbangkan &lt;/span&gt;dan demokrasi &lt;span lang=""&gt;ditegakkan. &lt;/span&gt;Pemerintah &lt;span lang=""&gt;mengembalikan &lt;/span&gt;lagi tanah rakyat kepada &lt;span lang=""&gt;pemiliknya &lt;/span&gt;yang sah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Di &lt;span lang=""&gt;sinilah kemusykilan &lt;/span&gt;terjadi. Untuk mengambil &lt;span lang=""&gt;haknya, pemilik &lt;/span&gt;tanah harus &lt;span lang=""&gt;sanggup meyakinkan dewan juri &lt;/span&gt;di &lt;span lang=""&gt;pengadilan. &lt;/span&gt;Waktu itu, tidak ada &lt;span lang=""&gt;pengacara &lt;/span&gt;dan tidak ada &lt;span lang=""&gt;sertifikat &lt;/span&gt;tanah. Setiap orang harus &lt;span lang=""&gt;meyakinkan mahkamah &lt;/span&gt;dengan pembicaraan saja. Sering orang tidak berhasil memperoleh kembali tanahnya, hanya karena ia tidak pandai bicara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Untuk membantu orang &lt;span lang=""&gt;memenangkan haknya &lt;/span&gt;di &lt;span lang=""&gt;pengadilan, Corax menulis makala&lt;/span&gt;h&lt;span lang=""&gt; retorika, &lt;/span&gt;yang diberi nama &lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;Techne Logon &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(Seni Kata-­kata). Walaupun &lt;span lang=""&gt;makalah &lt;/span&gt;ini sudah tidak ada, dari para &lt;span lang=""&gt;penulis &lt;/span&gt;se­zaman, kita mengetahui bahwa dalam &lt;span lang=""&gt;makalah &lt;/span&gt;itu ia berbicara tentang "teknik &lt;span lang=""&gt;kemungkinan&lt;/span&gt;".&lt;span lang=""&gt; &lt;/span&gt;Bila kita tidak dapat &lt;span lang=""&gt;memastikan &lt;/span&gt;sesuatu, &lt;span lang=""&gt;mulailah &lt;/span&gt;dari &lt;span lang=""&gt;kemungkinan umum. &lt;/span&gt;Seorang kaya &lt;span lang=""&gt;mencuri &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;dituntut &lt;/span&gt;di &lt;span lang=""&gt;pengadilan &lt;/span&gt;untuk pertama &lt;span lang=""&gt;kalinya. &lt;/span&gt;Dengan teknik &lt;span lang=""&gt;kemungkinan, &lt;/span&gt;kita bertanya, &lt;span lang=""&gt;"Mungkinkah &lt;/span&gt;seorang yang &lt;span lang=""&gt;berkecukupan mengorbankan kehormatannya &lt;/span&gt;dengan &lt;span lang=""&gt;mencuri? Bukankah, &lt;/span&gt;sepanjang h&lt;span lang=""&gt;idupnya, &lt;/span&gt;ia tidak &lt;span lang=""&gt;pernah diajukan &lt;/span&gt;ke &lt;span lang=""&gt;pengadilan &lt;/span&gt;karena &lt;span lang=""&gt;mencuri&lt;/span&gt;".&lt;span lang=""&gt; Seka&lt;/span&gt;rang, seorang miskin &lt;span lang=""&gt;mencuri &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;diajukan &lt;/span&gt;ke &lt;span lang=""&gt;pengadilan &lt;/span&gt;untuk kedua &lt;span lang=""&gt;kalinya. &lt;/span&gt;Kita bertanya, "la &lt;span lang=""&gt;pernah mencuri &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;pernah dihukum. &lt;/span&gt;Mana mungkin ia &lt;span lang=""&gt;berani &lt;/span&gt;melakukan lagi pekerjaan yang sama". &lt;span lang=""&gt;Akhirnya, retorika &lt;/span&gt;me&lt;span lang=""&gt;­mang mirip &lt;/span&gt;"ilmu &lt;span lang=""&gt;silat lidah&lt;/span&gt;".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Di samping teknik &lt;span lang=""&gt;kemungkinan, Corax meletakkan &lt;/span&gt;dasar-dasar &lt;span lang=""&gt;organisasi pesan. &lt;/span&gt;Ia &lt;span lang=""&gt;membagi &lt;/span&gt;pidato pada lima bagian: &lt;i&gt;pembukaan, uraian, &lt;span lang=""&gt;argumen, penjelasan &lt;/span&gt;tambahan, &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;kesimpuln. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Dari sini, para ahli &lt;span lang=""&gt;retorika kelak mengembangkan organisasi &lt;/span&gt;pidato.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Walaupun demokrasi gaya Syracuse tidak &lt;span lang=""&gt;bertahan &lt;/span&gt;lama, ajaran &lt;span lang=""&gt;Corax &lt;/span&gt;tetap &lt;span lang=""&gt;berpengaruh. Konon, Gelon, &lt;/span&gt;penguasa yang &lt;span lang=""&gt;mengguling­&lt;/span&gt;kan demokrasi dan &lt;span lang=""&gt;menegakkan &lt;/span&gt;kembali &lt;span lang=""&gt;tirani, &lt;/span&gt;menderita &lt;i&gt;halitosis &lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;(bau mulut). &lt;/span&gt;Karena ia &lt;span lang=""&gt;tiran &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;kejam, &lt;/span&gt;tak seorang pun &lt;span lang=""&gt;berani mem­beritahukan &lt;/span&gt;hal itu &lt;span lang=""&gt;kepadanya. &lt;/span&gt;Sampai di &lt;span lang=""&gt;negeri &lt;/span&gt;yang asing, seorang perempuan asing &lt;span lang=""&gt;berani menyebutkannya. &lt;/span&gt;Ia &lt;span lang=""&gt;terkejut. &lt;/span&gt;Ia &lt;span lang=""&gt;memarahi istrinya, &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;bertahun&lt;/span&gt;-tahun&lt;span lang=""&gt; &lt;/span&gt;begitu &lt;span lang=""&gt;dekat dengannya, &lt;/span&gt;tetapi tidak &lt;span lang=""&gt;memberitahukannya. Istrinya &lt;/span&gt;menjawab bahwa karena ia tidak &lt;span lang=""&gt;pernah dekat &lt;/span&gt;dengan laki-laki lain, ia &lt;span lang=""&gt;mengira &lt;/span&gt;semua laki-laki sama. &lt;span lang=""&gt;Gelon &lt;/span&gt;tidak jadi &lt;span lang=""&gt;menghukum istrinya. Tampaknya, &lt;/span&gt;sang istri sudah belajar &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;dari &lt;span lang=""&gt;Corax.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Masih di Pulau &lt;span lang=""&gt;Sicilia, &lt;/span&gt;tetapi di &lt;span lang=""&gt;Agrigenturn, &lt;/span&gt;hidup &lt;span lang=""&gt;Empedocles &lt;/span&gt;(490-430 &lt;span lang=""&gt;SM), filosof, mistikus, politisi, &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;sekaligus &lt;/span&gt;orator. Ia &lt;span lang=""&gt;cerdas &lt;/span&gt;dan menguasai banyak pengetahuan. Sebagai &lt;span lang=""&gt;filosof, &lt;/span&gt;ia &lt;span lang=""&gt;pernah berguru &lt;/span&gt;kepada &lt;span lang=""&gt;Pythagoras &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;menulis &lt;/span&gt;&lt;i&gt;The Nature of Things. &lt;/i&gt;Sebagai &lt;span lang=""&gt;mistikus, &lt;/span&gt;ia &lt;span lang=""&gt;percaya &lt;/span&gt;bahwa setiap orang bisa &lt;span lang=""&gt;bersatu &lt;/span&gt;dengan Tuhan bila ia &lt;span lang=""&gt;men­jauhi perbuatan &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;tercela. &lt;/span&gt;Sebagai &lt;span lang=""&gt;politisi, &lt;/span&gt;ia &lt;span lang=""&gt;memimpin &lt;/span&gt;pemberon­takan untuk &lt;span lang=""&gt;menggulingkan aristokrasi &lt;/span&gt;dan kekuasaan &lt;span lang=""&gt;diktator. &lt;/span&gt;Se­bagai orator, menurut &lt;span lang=""&gt;Aristoteles, &lt;/span&gt;"ia &lt;span lang=""&gt;mengajarkan prinsip-prinsip retorika, &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;kelak &lt;/span&gt;dijual &lt;span lang=""&gt;Gorgias &lt;/span&gt;kepada penduduk Athena".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Tahun 427 &lt;span lang=""&gt;SM Gorgias dikirim &lt;/span&gt;sebagai &lt;span lang=""&gt;duta &lt;/span&gt;ke Athena. &lt;span lang=""&gt;Negeri &lt;/span&gt;itu sedang &lt;span lang=""&gt;tumbuh &lt;/span&gt;sebagai negara yang kaya. &lt;span lang=""&gt;Kelas pedagang kosmopolitan &lt;/span&gt;selain memiliki waktu &lt;span lang=""&gt;luang &lt;/span&gt;lebih banyak, juga &lt;span lang=""&gt;terbuka &lt;/span&gt;pada gagasan-­gagasan baru. Di &lt;span lang=""&gt;Dewan &lt;/span&gt;Perwakilan Rakyat, di &lt;span lang=""&gt;pengadilan, &lt;/span&gt;orang memerlukan kemampuan &lt;span lang=""&gt;berpikir &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;jernih &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;logis &lt;/span&gt;serta berbicara yang jelas dan &lt;span lang=""&gt;persuasif. Gorgias &lt;/span&gt;memenuhi &lt;span lang=""&gt;kebutuhan "pasar" &lt;/span&gt;ini dengan &lt;span lang=""&gt;mendirikan &lt;/span&gt;sekolah &lt;span lang=""&gt;retorika. Gorgias menekankan dimensi &lt;/span&gt;bahasa yang &lt;span lang=""&gt;puitis &lt;/span&gt;dan teknik berbicara &lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;impromtu &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(kita &lt;span lang=""&gt;bahas &lt;/span&gt;pada Bab II). Ia meminta &lt;span lang=""&gt;bayaran &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;mahal; sekitar sepuluh &lt;/span&gt;ribu drachma ($ 10.000) untuk seorang murid saja. &lt;span lang=""&gt;Bersama Protagoras &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;kawan­-kawan, Gorgias berpindah &lt;/span&gt;dari satu kota ke kota yang lain. Mereka adalah &lt;span lang=""&gt;"dosen-dosen terbang&lt;/span&gt;".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Protagoras menyebut kelompoknya &lt;i&gt;sophistai, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;"guru kebijaksanaan" &lt;span lang=""&gt;Sejarahwan menyebut &lt;/span&gt;mereka &lt;span lang=""&gt;kelompok &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Sophis. &lt;/i&gt;Mereka &lt;span lang=""&gt;berjasa mengembangkan retorika &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;mempopulerkannya. Retorika, b&lt;/span&gt;agi mereka bukan hanya ilmu pidato, tetapi meliputi pengetahuan sastra, &lt;span lang=""&gt;gramatika, &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;logika. Mereka tahu bahwa rasio tidak cukup untuk meyakinkan orang. Mereka mengajarkan teknik-teknik memanipulasi emosi dan menggunakan prasangka untuk menyentuh hati pendengar. Berkat &lt;/span&gt;kaum Sophis, abad &lt;span lang=""&gt;keempat &lt;/span&gt;sebelum &lt;span lang=""&gt;Masehi &lt;/span&gt;adalah abad &lt;span lang=""&gt;retorika. Jago-jago &lt;/span&gt;pidato &lt;span lang=""&gt;muncul &lt;/span&gt;di &lt;span lang=""&gt;pesta Olimpiade, &lt;/span&gt;di &lt;span lang=""&gt;gedung &lt;/span&gt;perwakilan dan &lt;span lang=""&gt;pengadilan. &lt;/span&gt;Bila mereka &lt;span lang=""&gt;bertanding, &lt;/span&gt;orang-orang Athena &lt;span lang=""&gt;berdatangan &lt;/span&gt;dari tempat-tempat jauh; dan &lt;span lang=""&gt;menikmati "adu &lt;/span&gt;pidato" seperti &lt;span lang=""&gt;menikmati pertandingan tinju. &lt;/span&gt;Kita hanya akan &lt;span lang=""&gt;menyebutkan &lt;/span&gt;dua &lt;span lang=""&gt;tokoh &lt;/span&gt;saja sebagai contoh: &lt;span lang=""&gt;Demosthenes &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;Isocrates.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Berbeda dengan &lt;span lang=""&gt;Gorgias, Demosthenes mengembangkan &lt;/span&gt;gaya bicara yang tidak &lt;span lang=""&gt;berbunga-bunga, &lt;/span&gt;tetapi jelas dan keras. Dengan &lt;span lang=""&gt;cerdik, &lt;/span&gt;ia &lt;span lang=""&gt;menggabungkan narasi &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;argumentasi. &lt;/span&gt;Ia juga &lt;span lang=""&gt;amat memperhatikan &lt;/span&gt;cara &lt;span lang=""&gt;penyampaian &lt;/span&gt;(delivery). Menurut Will &lt;span lang=""&gt;Durant, &lt;/span&gt;"ia &lt;span lang=""&gt;meletakkan &lt;/span&gt;rahasia pidato pada &lt;span lang=""&gt;akting (hypocrisis). &lt;/span&gt;Berdasarkan &lt;span lang=""&gt;keyakinan &lt;/span&gt;ini, ia &lt;span lang=""&gt;berlatih &lt;/span&gt;pidato dengan &lt;span lang=""&gt;sabar. &lt;/span&gt;Ia &lt;span lang=""&gt;mengulang-ulangnya &lt;/span&gt;di depan cermin. Ia membuat &lt;span lang=""&gt;gua, &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;berbulan&lt;/span&gt;-bulan&lt;span lang=""&gt; tinggal &lt;/span&gt;di sana, &lt;span lang=""&gt;berlatih &lt;/span&gt;dengan &lt;span lang=""&gt;diam-diam. &lt;/span&gt;Pada masa-masa ini, ia &lt;span lang=""&gt;mencukur rambutnya sebelah, &lt;/span&gt;su­paya ia tidak &lt;span lang=""&gt;berani &lt;/span&gt;keluar dari &lt;span lang=""&gt;persembunyiannya. &lt;/span&gt;Di &lt;span lang=""&gt;mimbar, &lt;/span&gt;ia &lt;span lang=""&gt;melengkungkan tubuhnya, &lt;/span&gt;bergerak &lt;span lang=""&gt;berputar, meletakkan &lt;/span&gt;tangan di atas &lt;span lang=""&gt;dahinya &lt;/span&gt;seperti &lt;span lang=""&gt;berpikir, &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;seringkali mengeraskan suaranya &lt;/span&gt;seperti menjerit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Demosthenes pernah diusulkan &lt;/span&gt;untuk diberi &lt;span lang=""&gt;mahkota &lt;/span&gt;atas &lt;span lang=""&gt;jasa-­&lt;/span&gt;jasanya kepada negara dan atas &lt;span lang=""&gt;kenegarawanannya. Aeschines, &lt;/span&gt;orator lainnya, &lt;span lang=""&gt;menentang pemberian mahkota &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;memandangnya &lt;/span&gt;tidak &lt;span lang=""&gt;konstitusional. &lt;/span&gt;Di depan &lt;span lang=""&gt;Mahkamah &lt;/span&gt;yang terdiri dari &lt;span lang=""&gt;ratusan &lt;/span&gt;anggota &lt;span lang=""&gt;juri, &lt;/span&gt;ia &lt;span lang=""&gt;melancarkan kecamannya &lt;/span&gt;kepada &lt;span lang=""&gt;Demosthenes. &lt;/span&gt;Pada &lt;span lang=""&gt;gilirannya, Demosthenes menyerang Aeschines &lt;/span&gt;dalam &lt;span lang=""&gt;pidatonya &lt;/span&gt;yang terkenal &lt;i&gt;Perihal &lt;span lang=""&gt;Mahkota. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;Dewan juri memihak Demosthenes &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;menuntut Aeschines &lt;/span&gt;untuk membayar &lt;span lang=""&gt;denda. Aeschines &lt;/span&gt;lari ke Rhodes dan hidup dari kursus &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;yang tidak begitu laku. &lt;span lang=""&gt;Konon, Demosthenes &lt;/span&gt;mengirimkan uang &lt;span lang=""&gt;kepadanya &lt;/span&gt;untuk &lt;span lang=""&gt;membebaskannya &lt;/span&gt;dari &lt;span lang=""&gt;kemiskinan. Persaudaraan &lt;/span&gt;karena &lt;span lang=""&gt;profesi!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Duel antara dua orator itu telah &lt;span lang=""&gt;dikaji &lt;/span&gt;sepanjang &lt;span lang=""&gt;sejarah. Inilah &lt;/span&gt;buah pendidikan yang&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;dirintis &lt;/span&gt;oleh kaum &lt;span lang=""&gt;Sophis. &lt;/span&gt;Tetapi ini juga yang &lt;span lang=""&gt;membentuk &lt;/span&gt;citra &lt;span lang=""&gt;negatif &lt;/span&gt;tentang kaum Sophis. Seorang &lt;span lang=""&gt;tokoh &lt;/span&gt;yang berusaha &lt;span lang=""&gt;mengembangkan retorika &lt;/span&gt;dengan &lt;span lang=""&gt;menyingkirkan Sophisme negatif &lt;/span&gt;adalah &lt;span lang=""&gt;Isocrates. Isocrates percaya &lt;/span&gt;bahwa &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;dapat meningkatkan kualitas masyarakat; bahwa &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;tidak boleh &lt;span lang=""&gt;dipisahkan &lt;/span&gt;dari politik dan sastra. Tetapi ia &lt;span lang=""&gt;menganggap &lt;/span&gt;tidak semua orang boleh diberi &lt;span lang=""&gt;pelajaran &lt;/span&gt;ini. &lt;span lang=""&gt;Retorika &lt;/span&gt;menjadi sebuah &lt;span lang=""&gt;pelajaran elit, &lt;/span&gt;hanya untuk mereka yang &lt;span lang=""&gt;berbakat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Ia &lt;span lang=""&gt;mendirikan &lt;/span&gt;sekolah &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;yang paling berhasil tahun 391 &lt;span lang=""&gt;SM. &lt;/span&gt;Ia &lt;span lang=""&gt;mendidik muridnya &lt;/span&gt;menggunakan kata-kata dalam susunan yang &lt;span lang=""&gt;jernih &lt;/span&gt;tetapi tidak berlebih-lebihan, dalam &lt;span lang=""&gt;rentetan anak &lt;/span&gt;kalimat yang &lt;span lang=""&gt;seimbang &lt;/span&gt;dengan &lt;span lang=""&gt;pergeseran &lt;/span&gt;suara dan gagasan yang &lt;span lang=""&gt;lancar. &lt;/span&gt;Karena ia tidak mempunyai suara yang baik dan &lt;span lang=""&gt;keberanian &lt;/span&gt;untuk &lt;span lang=""&gt;tampil, &lt;/span&gt;ia hanya menuliskan &lt;span lang=""&gt;pidatonya. &lt;/span&gt;Ia &lt;span lang=""&gt;menulis risalah-risalah &lt;/span&gt;pendek dan &lt;span lang=""&gt;menyebarkannya. &lt;/span&gt;Sampai &lt;span lang=""&gt;sekarang risalah-risalah &lt;/span&gt;ini dianggap &lt;span lang=""&gt;waris­an &lt;/span&gt;prosa Yunani yang &lt;span lang=""&gt;menakjubkan. &lt;/span&gt;Gaya bahasa &lt;span lang=""&gt;Isocrates &lt;/span&gt;telah &lt;span lang=""&gt;mengilhami tokoh-tokoh retorika &lt;/span&gt;sepanjang zaman: &lt;span lang=""&gt;Cicero, &lt;/span&gt;Milton, &lt;span lang=""&gt;Massillon, &lt;/span&gt;Jeremy Taylor, dan Edmund &lt;span lang=""&gt;Burke.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Salah satu &lt;span lang=""&gt;risalah &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;ditulisnya mengkritik &lt;/span&gt;kaum Sophis. R&lt;span lang=""&gt;isalah &lt;/span&gt;ini &lt;span lang=""&gt;ikut &lt;/span&gt;membantu &lt;span lang=""&gt;berkembangnya kebencian &lt;/span&gt;kepada kaum Sophis. Di samping itu, kaum Sophis &lt;span lang=""&gt;kebanyakan &lt;/span&gt;para &lt;span lang=""&gt;pendatang &lt;/span&gt;asing di Athena. Orang &lt;span lang=""&gt;selalu mencurigai &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;dibawa &lt;/span&gt;orang asing. &lt;span lang=""&gt;Apalagi &lt;/span&gt;mereka &lt;span lang=""&gt;mengaku mengajarkan &lt;/span&gt;kebijaksanaan dengan &lt;span lang=""&gt;menuntut bayaran. &lt;/span&gt;Yang tidak &lt;span lang=""&gt;sanggup &lt;/span&gt;membayar tentu saja &lt;span lang=""&gt;melepaskan kekecewaannya &lt;/span&gt;dengan &lt;span lang=""&gt;mengecam &lt;/span&gt;mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Socrates, misalnya, hanya &lt;span lang=""&gt;sanggup &lt;/span&gt;membayar satu drachma untuk kursus yang diberikan &lt;span lang=""&gt;Prodicus. &lt;/span&gt;Karena itu, ia hanya memperoleh dasar-dasar bahasa yang sangat &lt;span lang=""&gt;rendah &lt;/span&gt;saja. Socrates &lt;span lang=""&gt;mengkritik &lt;/span&gt;kaum Sophis sebagai para &lt;span lang=""&gt;prostitut. &lt;/span&gt;Orang yang menjual &lt;span lang=""&gt;kecantikan &lt;/span&gt;untuk memperoleh uang, kata Socrates, adalah &lt;span lang=""&gt;prostitut. &lt;/span&gt;Begitu juga, orang yang menjual kebijaksanaan. Murid Socrates yang menerima pendapat &lt;span lang=""&gt;gurunya &lt;/span&gt;tentang &lt;span lang=""&gt;Sophisme &lt;/span&gt;adalah Plato.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Plato menjadikan &lt;span lang=""&gt;Gorgias &lt;/span&gt;dan Socrates sebagai contoh &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;palsu &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;yang benar, atau &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;yang berdasarkan pada &lt;span lang=""&gt;Sophisme &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;yang berdasarkan pada &lt;span lang=""&gt;filsafat. Sophisme mengajarkan &lt;/span&gt;kebenaran yang &lt;span lang=""&gt;relatif. Filsafat &lt;/span&gt;membawa orang kepada pengetahuan yang &lt;span lang=""&gt;sejati. &lt;/span&gt;Ketika &lt;span lang=""&gt;merumuskan retorika &lt;/span&gt;yang benar - yang membawa orang kepada &lt;span lang=""&gt;hakikat &lt;/span&gt;-&lt;span lang=""&gt; &lt;/span&gt;Plato &lt;span lang=""&gt;membahas organisasi, &lt;/span&gt;gaya, dan &lt;span lang=""&gt;penyampaian pesan. &lt;/span&gt;Dalam &lt;span lang=""&gt;karyanya, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Dialog, &lt;/i&gt;Plato meng&lt;span lang=""&gt;­anjurkan &lt;/span&gt;para pembicara untuk mengenal "jiwa" &lt;span lang=""&gt;pendengarnya. &lt;/span&gt;Dengan demikian, Plato &lt;span lang=""&gt;meletakkan &lt;/span&gt;dasar-dasar &lt;span lang=""&gt;retorika ilmiah &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;psikologi khalayak. &lt;/span&gt;Ia telah mengubah &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;sebagai &lt;span lang=""&gt;sekumpulan &lt;/span&gt;teknik &lt;span lang=""&gt;(Sophisme) &lt;/span&gt;menjadi sebuah &lt;span lang=""&gt;wacana ilmiah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Aristoteles, &lt;/span&gt;murid Plato yang paling &lt;span lang=""&gt;cerdas melanjutkan kajian re­torika ilmiah. &lt;/span&gt;Ia &lt;span lang=""&gt;menulis &lt;/span&gt;tiga &lt;span lang=""&gt;jilid &lt;/span&gt;buku yang &lt;span lang=""&gt;berjudul &lt;/span&gt;&lt;i&gt;De &lt;span lang=""&gt;Arte Rhetorica.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Dari &lt;span lang=""&gt;Aristoteles &lt;/span&gt;dan ahli &lt;span lang=""&gt;retorika klasik, &lt;/span&gt;kita memperoleh lima ta­hap &lt;span lang=""&gt;penyusunan &lt;/span&gt;pidato: terkenal sebagai Lima Hukum &lt;span lang=""&gt;Retorika &lt;/span&gt;(The Five Canons of Rhetoric).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;Inventio (penemuan). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Pada tahap ini, pembicara &lt;span lang=""&gt;menggali topik &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;meneliti khalayak &lt;/span&gt;untuk mengetahui &lt;span lang=""&gt;metode persuasi &lt;/span&gt;yang paling tepat. Bagi &lt;span lang=""&gt;Aristoteles, retorika &lt;/span&gt;tidak lain daripada "kemampuan untuk menentukan, dalam &lt;span lang=""&gt;kejadian tertentu &lt;/span&gt;dan situasi &lt;span lang=""&gt;tertentu, metode persuasi &lt;/span&gt;yang ada". Dalam tahap ini juga, pembicara &lt;span lang=""&gt;merumuskan &lt;/span&gt;tujuan dan mengumpulkan bahan &lt;span lang=""&gt;(argumen) &lt;/span&gt;yang sesuai dengan &lt;span lang=""&gt;kebutuhan khalayak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Aristoteles menyebut &lt;/span&gt;tiga cara untuk &lt;span lang=""&gt;mempengaruhi &lt;/span&gt;manusia. &lt;i&gt;Pertama, &lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;Anda &lt;/span&gt;harus sanggup menunjukkan kepada &lt;span lang=""&gt;khalayak &lt;/span&gt;bahwa &lt;span lang=""&gt;Anda &lt;/span&gt;memiliki pengetahuan yang luas, &lt;span lang=""&gt;kepribadian &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;terpercaya, &lt;/span&gt;dan status yang &lt;span lang=""&gt;terhormat &lt;/span&gt;(ethos). &lt;span lang=""&gt;&lt;i&gt;Kedua, &lt;/i&gt;Anda &lt;/span&gt;harus &lt;span lang=""&gt;Menyentuh &lt;/span&gt;hati &lt;span lang=""&gt;khalayak perasaan, emosi, &lt;/span&gt;harapan, &lt;span lang=""&gt;kebencian &lt;/span&gt;dan kasih &lt;span lang=""&gt;sayang &lt;/span&gt;mereka (pathos). &lt;span lang=""&gt;Kelak, &lt;/span&gt;para ahli &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;modern menyebutnya imba&lt;span lang=""&gt;uan &lt;/span&gt;emotional (emotional appeals). &lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;Keti&lt;/span&gt;g&lt;span lang=""&gt;a, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;Anda Meyakinkan khalayak &lt;/span&gt;dengan mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Di sini &lt;span lang=""&gt;Anda mendekati khalayak lewat otaknya &lt;/span&gt;(logos).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Di &lt;span lang=""&gt;samping ethos, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;pathos, &lt;/i&gt;dan &lt;span lang=""&gt;logos, Aristoteles menyebutkan &lt;/span&gt;dua cara lagi yang &lt;span lang=""&gt;efektif &lt;/span&gt;untuk &lt;span lang=""&gt;mempengaruhi &lt;/span&gt;pendengar: &lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;entimem &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dan contoh. &lt;span lang=""&gt;Entimem &lt;/span&gt;(Bahasa Yunani: "en" di dalam dan &lt;span lang=""&gt;"thymos" pikiran) &lt;/span&gt;adalah &lt;span lang=""&gt;sejenis silogisme &lt;/span&gt;yang tidak lengkap, tidak untuk &lt;span lang=""&gt;menghasilkan pembuktian ilmiah, &lt;/span&gt;tetapi untuk &lt;span lang=""&gt;menimbulkan &lt;/span&gt;ke&lt;span lang=""&gt;yakinan. &lt;/span&gt;Disebut tidak lengkap, karena sebagian &lt;span lang=""&gt;premis dihilangkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Sebagaimana &lt;span lang=""&gt;Anda ketahui, silogisme &lt;/span&gt;terdiri atas tiga &lt;span lang=""&gt;premis: &lt;/span&gt;ma­yor, minor, dan &lt;span lang=""&gt;kesimpulan. &lt;/span&gt;Semua manusia mempunyai &lt;span lang=""&gt;perasaan iba &lt;/span&gt;kepada orang yang menderita (mayor). &lt;span lang=""&gt;Anda &lt;/span&gt;manusia (minor). Tentu &lt;span lang=""&gt;Anda &lt;/span&gt;pun mempunyai &lt;span lang=""&gt;perasaan &lt;/span&gt;yang sama &lt;span lang=""&gt;(kesimpulan). &lt;/span&gt;Ketika saya ingin &lt;span lang=""&gt;mempengaruhi Anda &lt;/span&gt;untuk &lt;span lang=""&gt;mengasihi &lt;/span&gt;orang-orang yang menderita, saya berkata, &lt;span lang=""&gt;"Kasihanilah &lt;/span&gt;mereka. &lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;Sebagai manusia, Anda  pasti &lt;/span&gt;mempunyai perasaan&lt;span lang=""&gt; iba &lt;/span&gt;kepada &lt;span lang=""&gt;or&lt;/span&gt;ang&lt;span lang=""&gt; yang &lt;/span&gt;menderita ". &lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;Ucapan &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;ditulis &lt;/span&gt;miring menunjukkan &lt;span lang=""&gt;silogisme, &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;premis mayornya dihilangkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Di samping &lt;span lang=""&gt;entimem, &lt;/span&gt;contoh adalah cara lainnya. Dengan menge­mukakan beberapa contoh, secara &lt;span lang=""&gt;induktif Anda &lt;/span&gt;membuat &lt;span lang=""&gt;kesimpulan umum. Sembilan &lt;/span&gt;dari &lt;span lang=""&gt;sepuluh bintang &lt;/span&gt;film menggunakan &lt;span lang=""&gt;sabun Lnx. &lt;/span&gt;Jadi, &lt;span lang=""&gt;sabun Lux &lt;/span&gt;adalah &lt;span lang=""&gt;sabun &lt;/span&gt;para &lt;span lang=""&gt;bintang fihn.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;Dispositio &lt;/span&gt;(pe&lt;span lang=""&gt;nyusunan). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Pada tahap ini, pembicara menyusun pidato atau m&lt;span lang=""&gt;engorganisasikan pesan. Aristoteles &lt;/span&gt;menyebutnya taxis, yang berarti &lt;span lang=""&gt;pembagian. Pesan &lt;/span&gt;harus &lt;span lang=""&gt;dibagi &lt;/span&gt;ke dalam beberapa bagian yang berkaitan secara &lt;span lang=""&gt;logis. &lt;/span&gt;Susunan berikut ini mengikuti &lt;span lang=""&gt;kebiasaan berpikir &lt;/span&gt;manusia: &lt;span lang=""&gt;pengantar, &lt;/span&gt;pernyataan, &lt;span lang=""&gt;argumen, &lt;/span&gt;dan epilog. Menurut &lt;span lang=""&gt;Aristoteles, pengantar &lt;/span&gt;berfungsi menarik &lt;span lang=""&gt;perhatian, menumbuhkan kredibilitas &lt;/span&gt;(ethos), dan &lt;span lang=""&gt;menjelaskan &lt;/span&gt;tujuan&lt;span lang=""&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;Elocutio &lt;/span&gt;(gaya). &lt;/i&gt;Pada tahap ini, pembicara memilih kata-kata dan menggunakan bahasa yang tepat untuk &lt;span lang=""&gt;"mengemas" pesannya. Aristo­teles memberikan nasihat ini: gunakan bahasa yang tepat, benar, dan dapat diterima; pilih kata-kata yang jelas dan langsung; sampaikan kalimat yang indah, mulia, dan hidup; dan&lt;/span&gt; &lt;span lang=""&gt;sesuaikan bahasa dengan pe­san, khalayak, dan pembicara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;Memoria (memori). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Pada tahap ini, pembicara harus mengingat apa yang ingin &lt;span lang=""&gt;disampaikannya, &lt;/span&gt;dengan mengatur bahan-bahan &lt;span lang=""&gt;pem­bicaraannya. Aristoteles menyarankan "jembatan keledai" &lt;/span&gt;untuk me&lt;span lang=""&gt;­mudahkan ingatan. &lt;/span&gt;Di antara semua &lt;span lang=""&gt;peninggalan retorika klasik, &lt;/span&gt;me&lt;span lang=""&gt;­mori &lt;/span&gt;adalah yang paling kurang mendapat &lt;span lang=""&gt;perhatian &lt;/span&gt;para ahli &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;modern.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;Pronuntiatio (penyampaian). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Pada tahap ini, pembicara menyampai­kan &lt;span lang=""&gt;pesannya &lt;/span&gt;secara &lt;span lang=""&gt;lisan. &lt;/span&gt;Di sini, &lt;span lang=""&gt;akting &lt;/span&gt;sangat &lt;span lang=""&gt;berperan. Demos­thenes &lt;/span&gt;menyebutnya &lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;hypocrisis &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(boleh jadi dari sini &lt;span lang=""&gt;muncul &lt;/span&gt;kata &lt;span lang=""&gt;hipo­krit). &lt;/span&gt;Pembicara harus &lt;span lang=""&gt;memperhatikan olah &lt;/span&gt;suara &lt;span lang=""&gt;(vocis) &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;gerakan­gerakan,anggota badan (gestus moderatio &lt;/span&gt;cum &lt;span lang=""&gt;venustate).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;RETORIKA &lt;/span&gt;ZAMAN &lt;span lang=""&gt;ROMAWI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Teori retorika Aristoteles &lt;/span&gt;sangat &lt;span lang=""&gt;sistematis &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;komprehensif. &lt;/span&gt;Pada satu &lt;span lang=""&gt;sisi, retorika &lt;/span&gt;telah memperoleh dasar &lt;span lang=""&gt;teoretis &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;kokoh. &lt;/span&gt;Namun, pada &lt;span lang=""&gt;sisi &lt;/span&gt;lain, &lt;span lang=""&gt;uraiannya &lt;/span&gt;yang lengkap dan &lt;span lang=""&gt;persuasif &lt;/span&gt;telah &lt;span lang=""&gt;membungkam &lt;/span&gt;para ahli &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;yang datang &lt;span lang=""&gt;sesudahnya. &lt;/span&gt;Orang-orang &lt;span lang=""&gt;Romawi &lt;/span&gt;selama dua &lt;span lang=""&gt;ratus &lt;/span&gt;tahun setelah &lt;i&gt;De &lt;span lang=""&gt;Arte Rhetorica &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;tidak &lt;span lang=""&gt;menambahkan &lt;/span&gt;apa-apa yang berarti bagi &lt;span lang=""&gt;perkembangan retorika.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Buku &lt;i&gt;Ad &lt;span lang=""&gt;Herrenium, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;yang &lt;span lang=""&gt;ditulis &lt;/span&gt;dalam bahasa Latin &lt;span lang=""&gt;kira-kira &lt;/span&gt;100 &lt;span lang=""&gt;SM, &lt;/span&gt;hanya &lt;span lang=""&gt;mensistematisasikan &lt;/span&gt;dengan cara &lt;span lang=""&gt;Romawi warisan retorika &lt;/span&gt;gaya Yunani. Orang-orang &lt;span lang=""&gt;Romawi bahkan &lt;/span&gt;hanya mengambil segi&lt;span lang=""&gt;-se­gi praktisnya &lt;/span&gt;saja. Walaupun begitu, &lt;span lang=""&gt;kekaisaran Romawi &lt;/span&gt;bukan saja subur dengan sekolah-sekolah &lt;span lang=""&gt;retorika; &lt;/span&gt;tetapi juga kaya dengan &lt;span lang=""&gt;orator­-orator ulung: Antonius, Crassus, Rufus, Hortensius. &lt;/span&gt;Yang disebut terakhir terkenal begitu &lt;span lang=""&gt;piawai &lt;/span&gt;dalam &lt;span lang=""&gt;berpidato &lt;/span&gt;sehingga para &lt;span lang=""&gt;artis &lt;/span&gt;berusaha &lt;span lang=""&gt;mempelajari gerakan &lt;/span&gt;dan cara &lt;span lang=""&gt;penyampaiannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Kemampuan &lt;span lang=""&gt;Hortensius disempurnakan &lt;/span&gt;oleh &lt;span lang=""&gt;Cicero. &lt;/span&gt;Karena di&lt;span lang=""&gt;­besarkan &lt;/span&gt;dalam &lt;span lang=""&gt;keluarga &lt;/span&gt;kaya dan &lt;span lang=""&gt;menikah &lt;/span&gt;dengan istri yang &lt;span lang=""&gt;mem­berinya kehormatan &lt;/span&gt;dan uang, Cicero &lt;span lang=""&gt;muncul &lt;/span&gt;sebagai &lt;span lang=""&gt;negarawan &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;cendekiawan. Pernah &lt;/span&gt;hanya dalam dua tahun (45-44 &lt;span lang=""&gt;SM), &lt;/span&gt;ia &lt;span lang=""&gt;menulis &lt;/span&gt;banyak buku &lt;span lang=""&gt;filsafat &lt;/span&gt;dan lima buah buku &lt;span lang=""&gt;retorika. &lt;/span&gt;Dalam &lt;span lang=""&gt;teori, &lt;/span&gt;ia tidak banyak &lt;span lang=""&gt;menampilkan penemuan &lt;/span&gt;baru. Ia banyak mengambil gagasan dari &lt;span lang=""&gt;Isocrates. &lt;/span&gt;Ia &lt;span lang=""&gt;percaya &lt;/span&gt;bahwa &lt;span lang=""&gt;efek &lt;/span&gt;pidato akan baik, bila yang ber­pidato adalah orang baik juga. &lt;i&gt;The good man speaks well. &lt;/i&gt;Dalam &lt;span lang=""&gt;praktek, &lt;/span&gt;Cicero &lt;span lang=""&gt;betul-betul &lt;/span&gt;orator yang sangat &lt;span lang=""&gt;berpengaruh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Caesar, penguasa &lt;span lang=""&gt;Romawi &lt;/span&gt;yang&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;ditakuti, memuji &lt;/span&gt;Cicero, &lt;span lang=""&gt;"Anda &lt;/span&gt;telah &lt;span lang=""&gt;menemukan &lt;/span&gt;semua &lt;span lang=""&gt;khazanah retorika, &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;Andalah &lt;/span&gt;orang per­tama yang menggunakan semuanya. &lt;span lang=""&gt;Anda &lt;/span&gt;telah memperoleh &lt;span lang=""&gt;keme­nangan &lt;/span&gt;yang lebih &lt;span lang=""&gt;disukai &lt;/span&gt;dari &lt;span lang=""&gt;kemenangan &lt;/span&gt;para jenderal. Karena se&lt;span lang=""&gt;­sungguhnya &lt;/span&gt;lebih &lt;span lang=""&gt;agung memperluas batas-batas kecerdasan &lt;/span&gt;manusia daripada &lt;span lang=""&gt;memperluas batas-batas kerajaan Romawi&lt;/span&gt;".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Kira-kira &lt;/span&gt;57 buah &lt;span lang=""&gt;pidatonya &lt;/span&gt;sampai kepada kita &lt;span lang=""&gt;sekarang &lt;/span&gt;ini. Will &lt;span lang=""&gt;Durant menyimpulkan &lt;/span&gt;kepada kita gaya &lt;span lang=""&gt;pidatonya:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.99cm; margin-right: 1.16cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Pidatonya mempunyai kelebihan dalam menyajikan secara bergelora satu sisi masalah atau karakter; dalam menghibur khalayak dengan humor dan anekdot; dalam menyentuh kebanggaan, prasangka, perasaan, patriotisme dan kesalehan; dalam mengungkapkan secara keras kelemahan lawan -&lt;/span&gt; &lt;span lang=""&gt;yang sebenarnya atau yang diberitakan, yang tersembunyi atau yang&lt;i&gt; &lt;/i&gt;terbuka; dalam mengalihkan perhatian secara terampil dari pokok-pokok pembicaraan yang kurang menguntungkan; dalam memberondong pertanyaan retoris yang sulit dijawab; dalam menghimpun serangan-serangan, dengan kalimat-kalimat periodik yang anak-anaknya seperti cambukan dan yang badainya membahana...&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Dari tulisan-tulisannya yang sampai sekarang bisa dibaca, kita mengetahui bahwa Cicero sangat terampil dalam menyederhanakan pembicaraan yang sulit. &lt;/span&gt;Bahasa &lt;span lang=""&gt;Latinnya &lt;/span&gt;mudah &lt;span lang=""&gt;dibaca. &lt;/span&gt;Melalui &lt;span lang=""&gt;pena­&lt;/span&gt;nya, bahasa mengalir dengan &lt;span lang=""&gt;deras &lt;/span&gt;tetapi indah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Puluhan &lt;/span&gt;tahun &lt;span lang=""&gt;sepeninggal Cicero, Quintillianus mendirikan &lt;/span&gt;se­kolah &lt;span lang=""&gt;retorika. &lt;/span&gt;Ia sangat &lt;span lang=""&gt;mengagumi Cicero &lt;/span&gt;dan berusaha &lt;span lang=""&gt;merumuskan teori-teori retorika &lt;/span&gt;dari pidato dan tulisannya. Apa yang dapat kita &lt;span lang=""&gt;pelajari &lt;/span&gt;dari &lt;span lang=""&gt;Quintillianus? &lt;/span&gt;Banyak. Secara singkat, Will &lt;span lang=""&gt;Durant menceritakan kuliah retorika Quantillianus, &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;dituliskannya &lt;/span&gt;dalam buku &lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;Institutio Oratoria:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.99cm; margin-right: 1.16cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Ia &lt;span lang=""&gt;mendefinisikan retorika &lt;/span&gt;sebagai ilmu berbicara yang baik. Pendidikan orator harus &lt;span lang=""&gt;dimulai &lt;/span&gt;sebelum dia &lt;span lang=""&gt;lahir: &lt;/span&gt;Ia &lt;span lang=""&gt;sebaiknya berasal &lt;/span&gt;dari &lt;span lang=""&gt;keluarga terdidik, &lt;/span&gt;sehingga ia bisa menerima ajaran yang benar dan akhlak yang baik sejak &lt;span lang=""&gt;napas &lt;/span&gt;yang ia &lt;span lang=""&gt;hirup &lt;/span&gt;pertama kalinya. Tidak mungkin menjadi &lt;span lang=""&gt;terpelajar &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;terhormat &lt;/span&gt;hanya dalam satu &lt;span lang=""&gt;generasi. Calon orator harus mempelajari musik supaya ia mempunyai telinga yang dapat mendengarkan harmoni; tarian, supaya ia memiliki keanggunan dan ritma; drama, untuk menghidupkan kefasihannya dengan gerakan dan tindakan; gimnastik, untuk memberinya kesehatan dan kekuatan; sastra, untuk membenhik gaya dan melatih memorinya, dan memperlengkapinya dengan pemikiran­-pemikiran besar; sains, untuk memperkenalkan dia dengan pemahaman mengenai alam; dan&lt;/span&gt; &lt;span lang=""&gt;filsafat, untuk membentuk karakternya berdasarkan petunjuk akal dan bimbingan orang bijak. Karena semua persiapan tidak ada manfaatnya jika integritas akhlak dan kemuliaan rohani tidak melahirkan ketulusan bicara yang tak dapat ditolak. &lt;/span&gt;Kemudian, &lt;span lang=""&gt;pelajar retorika &lt;/span&gt;harus &lt;span lang=""&gt;menulis &lt;/span&gt;sebanyak dan &lt;span lang=""&gt;secermat mungkin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Sebuah saran yang &lt;span lang=""&gt;berlebihan. &lt;/span&gt;Tetapi kita &lt;span lang=""&gt;diingatkan &lt;/span&gt;lagi pada Cicero. &lt;i&gt;The good &lt;span lang=""&gt;man &lt;/span&gt;speaks well.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;RETORIKA &lt;/span&gt;ABAD &lt;span lang=""&gt;PERTENGAHAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Sejak zaman Yunani sampai zaman &lt;span lang=""&gt;Romawi, retorika selalu &lt;/span&gt;berkaitan dengan &lt;span lang=""&gt;kenegarawanan. &lt;/span&gt;Para orator &lt;span lang=""&gt;umumnya terlibat &lt;/span&gt;dalam kegiatan politik. Ada dua cara untuk memperoleh &lt;span lang=""&gt;kemenangan &lt;/span&gt;politik: &lt;i&gt;talk it &lt;span lang=""&gt;out &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;('membicarakan &lt;/span&gt;sampai &lt;span lang=""&gt;tuntas) &lt;/span&gt;atau &lt;i&gt;shoot it out &lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;(menembak &lt;/span&gt;sampai ha­bis). &lt;span lang=""&gt;Retorika &lt;/span&gt;s&lt;span lang=""&gt;ubur &lt;/span&gt;pada cara &lt;span lang=""&gt;pertama, &lt;/span&gt;cara demokrasi. Ketika demokrasi Romawi &lt;span lang=""&gt;mengalami kemunduran, &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;kaisar demi kaisar memegang &lt;/span&gt;pemerintahan, &lt;span lang=""&gt;"membicarakan" &lt;/span&gt;diganti dengan &lt;span lang=""&gt;"menembak&lt;/span&gt;".&lt;span lang=""&gt; Retorika tersingkir &lt;/span&gt;ke belakang &lt;span lang=""&gt;panggung. &lt;/span&gt;Para &lt;span lang=""&gt;kaisar &lt;/span&gt;tidak senang mendengar orang yang pandai berbicara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Abad &lt;span lang=""&gt;pertengahan &lt;/span&gt;sering &lt;span lang=""&gt;disebut abad kegelapan, juga buat retorika. Ketika agama Kristen berkuasa, retorika dianggap sebagai kesenian jahiliah. Banyak orang Kristen waktu itu melarang mempelajari retorika yang dirumuskan oleh orang-orang Yunani dan Romawi, para penyembah berhala. &lt;/span&gt;Bila &lt;span lang=""&gt;orang memeluk &lt;/span&gt;agama Kristen, secara otomatis ia akan memiliki kemampuan untuk &lt;span lang=""&gt;nmnyampaikan &lt;/span&gt;kebenaran. St. &lt;span lang=""&gt;Agustinus, &lt;/span&gt;yang telah &lt;span lang=""&gt;mempelajari retorika &lt;/span&gt;sebelum masuk Kristen tahun &lt;span lang=""&gt;386, &lt;/span&gt;adalah &lt;span lang=""&gt;kekecualian &lt;/span&gt;pada zaman itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Dalam &lt;i&gt;On Christian Doctrine (426), &lt;/i&gt;ia &lt;span lang=""&gt;menjelaskan &lt;/span&gt;bahwa para &lt;span lang=""&gt;pengkhotbah &lt;/span&gt;harus &lt;span lang=""&gt;sanggup mengajar, menggembirakan, &lt;/span&gt;dan meng&lt;span lang=""&gt;­gerakkan &lt;/span&gt;-&lt;span lang=""&gt; &lt;/span&gt;yang oleh Cicero disebut sebagai kewajiban orator. Untuk mencapai tujuan Kristen, &lt;span lang=""&gt;yakni mengungkapkan &lt;/span&gt;kebenaran, kita harus &lt;span lang=""&gt;mempelajari &lt;/span&gt;teknik &lt;span lang=""&gt;penyampaian pesan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Satu abad kemudian, di Timur &lt;span lang=""&gt;muncul peradaban &lt;/span&gt;baru. Seorang &lt;span lang=""&gt;Nabi &lt;/span&gt;menyampaikan &lt;span lang=""&gt;firman &lt;/span&gt;Tuhan, "Berilah mereka &lt;span lang=""&gt;nasihat &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;berbicaralah &lt;/span&gt;kepada mereka dengan pembicaraan yang &lt;span lang=""&gt;menyentuh jiwa &lt;/span&gt;mereka" &lt;span lang=""&gt;(Alquran &lt;/span&gt;4:63&lt;i&gt;). &lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;Muhammad &lt;/span&gt;saw. &lt;span lang=""&gt;bersabda, memperteguh &lt;/span&gt;firman Tuhan ini, &lt;span lang=""&gt;"Sesungguhnya &lt;/span&gt;dalam kemampuan berbicara yang baik itu ada &lt;span lang=""&gt;sihirnya&lt;/span&gt;".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Ia sendiri seorang pembicara yang &lt;span lang=""&gt;fasih &lt;/span&gt;-&lt;span lang=""&gt; &lt;/span&gt;dengan kata-kata singkat yang&lt;i&gt; &lt;/i&gt;mengandung &lt;span lang=""&gt;makna padat. &lt;/span&gt;Para &lt;span lang=""&gt;sahabatnya bercerita &lt;/span&gt;bahwa &lt;span lang=""&gt;ucapannya &lt;/span&gt;sering menyebabkan pendengar &lt;span lang=""&gt;berguncang &lt;/span&gt;hatinya dan &lt;span lang=""&gt;berlinang &lt;/span&gt;air &lt;span lang=""&gt;matanya. &lt;/span&gt;Tetapi ia tidak hanya menyentuh hati, ia juga &lt;span lang=""&gt;mengimbau akal &lt;/span&gt;para &lt;span lang=""&gt;pendengarnya. &lt;/span&gt;Ia sangat &lt;span lang=""&gt;memperhatikan &lt;/span&gt;orang­-orang yang &lt;span lang=""&gt;dihadapinya, &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;menyesuaikan pesannya &lt;/span&gt;dengan keadaan mereka. Ada &lt;span lang=""&gt;ulama &lt;/span&gt;yang mengumpulkan &lt;span lang=""&gt;khusus pidatonya &lt;/span&gt;dan me&lt;span lang=""&gt;­namainya &lt;i&gt;Madinat al-Balaghah &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;(Kota &lt;span lang=""&gt;Balaghah). &lt;/span&gt;Salah seorang &lt;span lang=""&gt;sahabat &lt;/span&gt;yang paling &lt;span lang=""&gt;dikasihinya, Ali &lt;/span&gt;bin &lt;span lang=""&gt;Abi Thalib, mewarisi ilmunya &lt;/span&gt;dalam berbicara. Seperti &lt;span lang=""&gt;dilukiskan &lt;/span&gt;Thomas &lt;span lang=""&gt;Carlyle, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;"every antagonist in the combats of tongue or of sword was &lt;span lang=""&gt;subdi&lt;/span&gt;t&lt;span lang=""&gt;ed &lt;/span&gt;by his eloquence and valor". &lt;/i&gt;Pada &lt;span lang=""&gt;Ali &lt;/span&gt;bin Abi &lt;span lang=""&gt;Thalib, kefasihan &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;kenegarawanan bergabung &lt;/span&gt;kembali. &lt;span lang=""&gt;Khotbah-khotbahnya dikumpulkan &lt;/span&gt;dengan &lt;span lang=""&gt;cermat &lt;/span&gt;oleh para &lt;span lang=""&gt;peng­ikutnya &lt;/span&gt;dan diberi &lt;span lang=""&gt;judul &lt;i&gt;Nahj al-Balaghah &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;(Jalan &lt;span lang=""&gt;Balaghah).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Balaghah &lt;/span&gt;menjadi &lt;span lang=""&gt;disiplin &lt;/span&gt;ilmu yang &lt;span lang=""&gt;menduduki &lt;/span&gt;status yang &lt;span lang=""&gt;mulia &lt;/span&gt;dalam &lt;span lang=""&gt;peradaban &lt;/span&gt;Islam. Kaum Muslim menggunakan &lt;span lang=""&gt;balaghah &lt;/span&gt;sebagai pengganti &lt;span lang=""&gt;retorika. &lt;/span&gt;Tetapi, &lt;span lang=""&gt;warisan retorika &lt;/span&gt;Yunani, yang d&lt;span lang=""&gt;icampakkan &lt;/span&gt;di Eropa Abad &lt;span lang=""&gt;Pertengahan, dikaji &lt;/span&gt;dengan &lt;span lang=""&gt;tekun &lt;/span&gt;oleh para ahli ba­laghah. &lt;span lang=""&gt;Sayang, &lt;/span&gt;sangat kurang sekali &lt;span lang=""&gt;studi berkenaan &lt;/span&gt;dengan &lt;span lang=""&gt;kontribusi Balaghah &lt;/span&gt;pada &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;modern. &lt;span lang=""&gt;Balaghah, &lt;/span&gt;beserta &lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;ma'ani &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;bayan, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;masih &lt;span lang=""&gt;tersembunyi &lt;/span&gt;di pesantren-pesantren dan &lt;span lang=""&gt;lembaga-lembaga &lt;/span&gt;pen­didikan Islam &lt;span lang=""&gt;tradisional.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;RETORIKA &lt;/span&gt;MODERN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Abad &lt;span lang=""&gt;Pertengahan &lt;/span&gt;berlangsung selama seribu tahun (400-1400). Di Eropa, selama &lt;span lang=""&gt;periode panjang &lt;/span&gt;itu, &lt;span lang=""&gt;warisan peradaban &lt;/span&gt;Yunani &lt;span lang=""&gt;diabai­&lt;/span&gt;kan. Pertemuan orang Eropa dengan Islam - yang &lt;span lang=""&gt;menyimpan &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;mengembangkan khazanah &lt;/span&gt;Yunani - dalam Perang Salib &lt;span lang=""&gt;menimbulkan &lt;/span&gt;Renaissance. Salah seorang &lt;span lang=""&gt;pemikir &lt;/span&gt;Renaissance yang menarik kembali &lt;span lang=""&gt;minat &lt;/span&gt;orang pada &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;adalah Peter &lt;span lang=""&gt;Ramus. &lt;/span&gt;Ia &lt;span lang=""&gt;membagi retorika &lt;/span&gt;pada dua bagian. &lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;Inventio &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dan &lt;span lang=""&gt;&lt;i&gt;dispositio &lt;/i&gt;dimasukkannya &lt;/span&gt;sebagai bagian &lt;span lang=""&gt;logika. &lt;/span&gt;Sedangkan &lt;span lang=""&gt;retorika hanyalah berkenaan &lt;/span&gt;dengan &lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;elocutio &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;pronuntiatio &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;saja. &lt;span lang=""&gt;Taksonomi &lt;/span&gt;Ramus berlangsung selama beberapa &lt;span lang=""&gt;generasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Renaissance &lt;span lang=""&gt;mengantarkan &lt;/span&gt;kita kepada &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;modern. Yang membangun &lt;span lang=""&gt;jembatan, menghubungkan &lt;/span&gt;Renaissance dengan &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;modern adalah Roger Bacon (1214-1219). Ia bukan saja &lt;span lang=""&gt;memperkenalkan metode eksperimental, &lt;/span&gt;tetapi juga &lt;span lang=""&gt;pentingnya &lt;/span&gt;pengetahuan tentang proses &lt;span lang=""&gt;psikologis &lt;/span&gt;dalam &lt;span lang=""&gt;studi retorika. &lt;/span&gt;Ia menyatakan, "... kewajiban &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;ialah menggunakan &lt;span lang=""&gt;rasio &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;imajinasi &lt;/span&gt;untuk &lt;span lang=""&gt;menggerakkan kemauan &lt;/span&gt;secara lebih baik". &lt;span lang=""&gt;Rasio, imajinasi, kemauan &lt;/span&gt;adalah &lt;span lang=""&gt;fakultas-­fakultas psikologis &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;kelak &lt;/span&gt;menjadi &lt;span lang=""&gt;kajian &lt;/span&gt;utama ahli &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;modern.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Aliran pertama &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;dalam masa modern, yang &lt;span lang=""&gt;menekankan &lt;/span&gt;proses &lt;span lang=""&gt;psikologis, &lt;/span&gt;dikenal sebagai &lt;i&gt;aliran &lt;span lang=""&gt;epistemologis. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;Epistemologi membahas "teori &lt;/span&gt;pengetahuan"; asal&lt;span lang=""&gt;-usul, &lt;/span&gt;sifat, &lt;span lang=""&gt;metode, &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;batas-batas &lt;/span&gt;pengetahuan manusia. Para &lt;span lang=""&gt;pemikir epistemologis &lt;/span&gt;berusaha &lt;span lang=""&gt;mengkaji retorika klasik &lt;/span&gt;dalam &lt;span lang=""&gt;sorotan perkembangan psikologi kognitif (yakni, &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;membahas &lt;/span&gt;proses mental).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;George Campbell (1719-1796), dalam &lt;span lang=""&gt;bukunya &lt;/span&gt;&lt;i&gt;The Philosophy of Rhetoric, &lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;menelaah tulisan Aristoteles, &lt;/span&gt;Cicero, dan &lt;span lang=""&gt;Quintillianus &lt;/span&gt;dengan pendekatan &lt;span lang=""&gt;psikologi fakultas &lt;/span&gt;(bukan &lt;span lang=""&gt;fakultas psikologi). Psikologi fakultas berusaha menjelaskan sebab-musabab perilaku manusia pada empat fakultas - atau kemampuan jiwa manusia: pemahaman, memori, imajinasi, perasaan, dan kemauan. Retorika, &lt;/span&gt;menurut &lt;span lang=""&gt;definisi &lt;/span&gt;Campbell, &lt;span lang=""&gt;haruslah diarahkan &lt;/span&gt;kepada upaya &lt;span lang=""&gt;"mencerahkan &lt;/span&gt;pemahaman, &lt;span lang=""&gt;menyenangkan imajinasi, menggerakkan perasaan, &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;mempengaruhi kemauan&lt;/span&gt;".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Richard &lt;span lang=""&gt;Whately mengembangkan retorika &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;dirintis &lt;/span&gt;Campbell. Ia &lt;span lang=""&gt;mendasarkan teori retorikanya &lt;/span&gt;juga pada &lt;span lang=""&gt;psikologi fakultas. &lt;/span&gt;Hanya saja ia &lt;span lang=""&gt;menekankan argumentasi &lt;/span&gt;sebagai &lt;span lang=""&gt;fokus retorika. Retorika &lt;/span&gt;harus &lt;span lang=""&gt;mengajarkan bagaimana &lt;/span&gt;mencari &lt;span lang=""&gt;argumentasi &lt;/span&gt;yang tepat dan meng&lt;span lang=""&gt;­organisasikannya &lt;/span&gt;secara baik. Baik &lt;span lang=""&gt;Whately maupun &lt;/span&gt;Campbell &lt;span lang=""&gt;me­nekankan pentingnya menelaah &lt;/span&gt;proses &lt;span lang=""&gt;berpikir &lt;/span&gt;khalayak. Karena itu, &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;berorientasi &lt;/span&gt;pada khalayak &lt;span lang=""&gt;(audience-centered) berutang budi &lt;/span&gt;pada kaum &lt;span lang=""&gt;epistemologis &lt;/span&gt;-&lt;span lang=""&gt; &lt;/span&gt;aliran pertama &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;modern.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Aliran &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;modern kedua dikenal sebagai gerakan &lt;i&gt;belles &lt;span lang=""&gt;lettres &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(Bahasa Prancis: &lt;span lang=""&gt;tulisan &lt;/span&gt;yang indah). &lt;span lang=""&gt;Retorika belletris &lt;/span&gt;sangat meng­utamakan &lt;span lang=""&gt;keindahan &lt;/span&gt;bahasa, segi-segi &lt;span lang=""&gt;estetis pesan, kadang-kadang &lt;/span&gt;dengan &lt;span lang=""&gt;mengabaikan &lt;/span&gt;segi &lt;span lang=""&gt;informatifnya. &lt;/span&gt;Hugh &lt;span lang=""&gt;Blair &lt;/span&gt;(1718-1800) me&lt;span lang=""&gt;­nulis &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Lectures on Rhetoric and Belles &lt;span lang=""&gt;Lettres. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Di sini ia &lt;span lang=""&gt;menjelaskan hu­bungan &lt;/span&gt;antara &lt;span lang=""&gt;retorika, &lt;/span&gt;sastra, dan &lt;span lang=""&gt;kritik. Ia memperkenalkan fakultas citarasa (taste), yaitu kemampuan untuk memperoleh kenikmatan dari pertemuan dengan apa pun yang indah. Karena memiliki fakultas cita­rasa, Anda senang mendengarkan musik yang indah, membaca tulisan yang indah, melihat pemandangan yang indah, atau mencamkan pidato yang indah. Citarasa, &lt;/span&gt;kata &lt;span lang=""&gt;Blair, &lt;/span&gt;mencapai &lt;span lang=""&gt;kesempurnaan &lt;/span&gt;ketika &lt;span lang=""&gt;kenikmatan inderawi dipadukan &lt;/span&gt;dengan &lt;span lang=""&gt;rasio &lt;/span&gt;-&lt;span lang=""&gt; &lt;/span&gt;ketika &lt;span lang=""&gt;rasio &lt;/span&gt;dapat &lt;span lang=""&gt;menjelaskan sumber-sumber kenikmatan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Aliran pertama &lt;span lang=""&gt;(epistemologi) &lt;/span&gt;dan kedua (belles &lt;span lang=""&gt;lettres) terutama memusatkan perhatian &lt;/span&gt;mereka pada persiapan pidato - pada &lt;span lang=""&gt;penyu­sunan pesan &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;penggunaan &lt;/span&gt;bahasa. Aliran ketiga - disebut &lt;i&gt;gerakan &lt;span lang=""&gt;elokusionis &lt;/span&gt;-&lt;span lang=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;justru menekankan &lt;/span&gt;teknik &lt;span lang=""&gt;penyampaian &lt;/span&gt;pidato. &lt;span lang=""&gt;Gilbert &lt;/span&gt;Austin, misalnya memberikan petunjuk &lt;span lang=""&gt;praktis penyampaian &lt;/span&gt;pidato, "Pembicara tidak boleh melihat &lt;span lang=""&gt;melantur. &lt;/span&gt;Ia harus &lt;span lang=""&gt;mengarahkan &lt;/span&gt;mata­nya langsung kepada pendengar, dan menjaga &lt;span lang=""&gt;ketenangannya. &lt;/span&gt;Ia tidak boleh segera &lt;span lang=""&gt;melepaskan &lt;/span&gt;seluruh &lt;span lang=""&gt;suaranya, &lt;/span&gt;tetapi &lt;span lang=""&gt;mulailah &lt;/span&gt;dengan nada yang paling &lt;span lang=""&gt;rendah, &lt;/span&gt;dan mengeluarkan &lt;span lang=""&gt;suaranya &lt;/span&gt;sedikit saja; jika ia ingin &lt;span lang=""&gt;mendiamkan gumaman &lt;/span&gt;orang dan &lt;span lang=""&gt;mencengkeram perhatian &lt;/span&gt;mereka". James Burgh, &lt;span lang=""&gt;misal &lt;/span&gt;yang lain, &lt;span lang=""&gt;menjelaskan &lt;/span&gt;71 &lt;span lang=""&gt;emosi &lt;/span&gt;dan cara &lt;span lang=""&gt;mengungkapkannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Dalam &lt;span lang=""&gt;perkembangan, &lt;/span&gt;gerakan &lt;span lang=""&gt;elokusionis dikritik &lt;/span&gt;karena &lt;span lang=""&gt;per­hatian &lt;/span&gt;-&lt;span lang=""&gt; &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;kesetiaan &lt;/span&gt;-&lt;span lang=""&gt; &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;berlebihan &lt;/span&gt;pada teknik. Ketika mengikuti kaum &lt;span lang=""&gt;elokusionis, &lt;/span&gt;pembicara tidak lagi berbicara dan bergerak secara &lt;span lang=""&gt;spontan. Gerakannya &lt;/span&gt;menjadi &lt;span lang=""&gt;artifisial. &lt;/span&gt;Walaupun begitu, kaum &lt;span lang=""&gt;elokusionis &lt;/span&gt;telah &lt;span lang=""&gt;berjaya &lt;/span&gt;dalam melakukan &lt;span lang=""&gt;penelitian empiris &lt;/span&gt;sebelum &lt;span lang=""&gt;merumuskan "resep-resep" penyampaian &lt;/span&gt;pidato. &lt;span lang=""&gt;Retorika kini &lt;/span&gt;tidak lagi ilmu berdasarkan semata-mata &lt;span lang=""&gt;"otak-atik otak" &lt;/span&gt;atau hasil &lt;span lang=""&gt;perenungan rasional &lt;/span&gt;saja. &lt;span lang=""&gt;Retorika, &lt;/span&gt;seperti &lt;span lang=""&gt;disiplin &lt;/span&gt;yang lain, &lt;span lang=""&gt;dirumuskan &lt;/span&gt;dari hasil &lt;span lang=""&gt;penelitian empiris.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Pada abad kedua puluh, retorika mengambil manfaat dari perkem­bangan ilmu pengetahuan modern &lt;/span&gt;-&lt;span lang=""&gt; khususnya ilmu-ilmu perilaku seperti psikologi dan sosiologi. Istilah retorika &lt;/span&gt;pun mulai &lt;span lang=""&gt;digeser &lt;/span&gt;oleh &lt;i&gt;speech, speech &lt;span lang=""&gt;communication, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;oral communication, &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;public &lt;span lang=""&gt;speak­ing. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Di bawah ini &lt;span lang=""&gt;diperkenalkan &lt;/span&gt;sebagian dari &lt;span lang=""&gt;tokoh-tokoh retorika mutakhir:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;1. &lt;b&gt;James A &lt;span lang=""&gt;Winans&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Ia adalah &lt;span lang=""&gt;perintis penggunaan psikologi &lt;/span&gt;modern dalam &lt;span lang=""&gt;pidatonya. Bukunya, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Public Speaking, &lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;terbit &lt;/span&gt;tahun &lt;i&gt;1917 &lt;/i&gt;mempergunakan &lt;span lang=""&gt;teori psikologi dari William &lt;/span&gt;James dan &lt;span lang=""&gt;E.B. Tichener. &lt;/span&gt;Sesuai dengan &lt;span lang=""&gt;teori &lt;/span&gt;James bahwa tindakan ditentukan oleh &lt;span lang=""&gt;perhatian, Winans, men­definisikan persuasi &lt;/span&gt;sebagai "proses &lt;span lang=""&gt;menumbuhkan perhatian &lt;/span&gt;yang memadai baik dan tidak terbagi terhadap &lt;span lang=""&gt;proposisi-propo­sisi&lt;/span&gt;".&lt;span lang=""&gt; &lt;/span&gt;Ia &lt;span lang=""&gt;menerangkan pentingnya membangkitkan emosi &lt;/span&gt;melalui &lt;span lang=""&gt;motif-motif psikologis &lt;/span&gt;seperti kepentingan &lt;span lang=""&gt;pribadi, &lt;/span&gt;kewajiban sosial dan kewajiban agama. Cara &lt;span lang=""&gt;berpidato &lt;/span&gt;yang bersifat &lt;span lang=""&gt;percakapan &lt;/span&gt;(conversation) dan teknik-teknik &lt;span lang=""&gt;penyampaian &lt;/span&gt;pidato merupakan &lt;span lang=""&gt;pembahasan &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;amat berharga. Winans &lt;/span&gt;adalah &lt;span lang=""&gt;pendiri &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Speech Communication Association of America (1950).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;2. &lt;b&gt;Charles Henry &lt;span lang=""&gt;Woolbert&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Ia pun termasuk &lt;span lang=""&gt;pendiri &lt;/span&gt;&lt;i&gt;the Speech Communication Association of America. &lt;/i&gt;Kali ini &lt;span lang=""&gt;psikologi &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;amat mempengaruhinya &lt;/span&gt;adalah &lt;span lang=""&gt;behaviorisme &lt;/span&gt;dari John B. &lt;span lang=""&gt;Watson. &lt;/span&gt;Tidak &lt;span lang=""&gt;heran &lt;/span&gt;kalau &lt;span lang=""&gt;Woolbert &lt;/span&gt;memandang "Speech Communication" sebagai ilmu &lt;span lang=""&gt;tingkah &lt;/span&gt;laku. &lt;span lang=""&gt;Baginya, &lt;/span&gt;proses &lt;span lang=""&gt;penyusunan &lt;/span&gt;pidato adalah kegiatan seluruh &lt;span lang=""&gt;orga­&lt;/span&gt;nisme. Pidato merupakan ungkapan &lt;span lang=""&gt;kepribadian. Logika adalah da&lt;/span&gt;­&lt;span lang=""&gt;sar utama persuasi. Dalam penyusunan persiapan pidato, menurut Woolbert harus diperhatikan hal-hal berikut: (1) teliti tujuannya, (2) ketahui khalayak dan situasinya, (3) tentukan proposisi yang cocok dengan khalayak dan situasi tersebut, (4) pilih kalimat-ka­limat yang dipertalikan secara logis. Bukunya &lt;/span&gt;yang terkenal adalah &lt;i&gt;The Fundamental of Speech.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;3. &lt;b&gt;William &lt;span lang=""&gt;Noorwood Brigance&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Berbeda dengan &lt;span lang=""&gt;Woolbert &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;menitikberatkan logika, Brigance menekankan faktor keinginan &lt;/span&gt;(desire) sebagai dasar &lt;span lang=""&gt;persuasi. "Keyakinan&lt;/span&gt;",&lt;span lang=""&gt; ujar Brigance, "jarang &lt;/span&gt;merupakan hasil &lt;span lang=""&gt;pemikiran. &lt;/span&gt;Ki­ta cenderung &lt;span lang=""&gt;mempercayai &lt;/span&gt;apa yang &lt;span lang=""&gt;membangkitkan keinginan &lt;/span&gt;kita, &lt;span lang=""&gt;ketakutan &lt;/span&gt;kita dan &lt;span lang=""&gt;emosi &lt;/span&gt;kita". &lt;span lang=""&gt;Persuasi &lt;/span&gt;meliputi empat unsur: (1) rebut &lt;span lang=""&gt;perhatian &lt;/span&gt;pendengar, (2) &lt;span lang=""&gt;usahakan &lt;/span&gt;pendengar untuk &lt;span lang=""&gt;mempercayai &lt;/span&gt;kemampuan dan &lt;span lang=""&gt;karakter Anda, &lt;/span&gt;(3) &lt;span lang=""&gt;dasarkanlah pemikiran &lt;/span&gt;pada &lt;span lang=""&gt;keinginan, &lt;/span&gt;dan (4) &lt;span lang=""&gt;kembangkan &lt;/span&gt;setiap gagasan sesuai dengan &lt;span lang=""&gt;sikap &lt;/span&gt;pendengar. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;4. &lt;b&gt;Alan H. &lt;span lang=""&gt;Monroe&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Bukunya, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Principles and Types of Speech, &lt;/i&gt;banyak kita &lt;span lang=""&gt;pergunakan &lt;/span&gt;dalam buku ini. &lt;span lang=""&gt;Dimulai &lt;/span&gt;pada &lt;span lang=""&gt;pertengahan &lt;/span&gt;tahun &lt;span lang=""&gt;20-an Monroe &lt;/span&gt;beserta &lt;span lang=""&gt;stafnya meneliti &lt;/span&gt;proses &lt;span lang=""&gt;motivasi &lt;/span&gt;(motivating process). &lt;span lang=""&gt;Jasa, Monroe &lt;/span&gt;yang terbesar adalah cara &lt;span lang=""&gt;organisasi pesan. &lt;/span&gt;Menurut &lt;span lang=""&gt;Monroe, pesan &lt;/span&gt;harus disusun berdasarkan proses &lt;span lang=""&gt;berpikir &lt;/span&gt;manusia yang &lt;span lang=""&gt;disebutnya &lt;/span&gt;&lt;i&gt;motivated sequence.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Beberapa &lt;span lang=""&gt;sarjana retorika &lt;/span&gt;modern lainnya yang &lt;span lang=""&gt;patut &lt;/span&gt;kita &lt;span lang=""&gt;sebut &lt;/span&gt;antara lain &lt;span lang=""&gt;A.E. &lt;/span&gt;Philips &lt;i&gt;(Effective Speaking, 1908), &lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;Brembeck &lt;/span&gt;dan Howell &lt;i&gt;(Per­suasion: A Means of Social &lt;span lang=""&gt;Control, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;1952), &lt;span lang=""&gt;R.T. Oliver &lt;/span&gt;&lt;i&gt;(Psychology of Per­suasive &lt;span lang=""&gt;Speech, 1942). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Di &lt;span lang=""&gt;Jerman, &lt;/span&gt;selain &lt;span lang=""&gt;tokoh &lt;/span&gt;"notorious" Hitler, dengan bukunya &lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;Mein Kampf, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;maka &lt;span lang=""&gt;Naumann &lt;/span&gt;&lt;i&gt;(Die &lt;span lang=""&gt;Kunst der &lt;/span&gt;Rede, 1941), &lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;Dessoir &lt;/span&gt;&lt;i&gt;(Die &lt;span lang=""&gt;Rede als Kunst, 1984) &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dan &lt;span lang=""&gt;Damachke &lt;i&gt;(Volkstumliche Redekunst, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;1918) &lt;/i&gt;adalah pelopor &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;modern juga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Dewasa ini &lt;span lang=""&gt;retorika &lt;/span&gt;sebagai &lt;i&gt;public speaking, oral comm&lt;span lang=""&gt;unication, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;speech communication &lt;span lang=""&gt;-&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;diajarkan &lt;/span&gt;dan &lt;span lang=""&gt;diteliti &lt;/span&gt;secara &lt;span lang=""&gt;ilmiah &lt;/span&gt;di lingkungan &lt;span lang=""&gt;akademis. Pada waktu mendatang, ilmu ini tampaknya akan diberikan juga pada mahasiswa-mahasiswa di luar ilmu sosial. &lt;/span&gt;Dr. Charles &lt;span lang=""&gt;Hurst &lt;/span&gt;mengadakan &lt;span lang=""&gt;penelitian &lt;/span&gt;tentang &lt;span lang=""&gt;pengaruh &lt;/span&gt;&lt;i&gt;speech courses &lt;/i&gt;terhadap &lt;span lang=""&gt;pres­tasi akademis &lt;/span&gt;mahasiswa. Hasilnya &lt;span lang=""&gt;membuktikan &lt;/span&gt;bahwa &lt;span lang=""&gt;pengaruh &lt;/span&gt;itu &lt;span lang=""&gt;cukup &lt;/span&gt;berarti. &lt;span lang=""&gt;Mahasiswa &lt;/span&gt;yang memperoleh &lt;span lang=""&gt;pelajaran &lt;/span&gt;&lt;i&gt;speech &lt;/i&gt;(speech group) mendapat &lt;span lang=""&gt;skor &lt;/span&gt;yang&lt;i&gt; &lt;/i&gt;lebih &lt;span lang=""&gt;tinggi &lt;/span&gt;dalam &lt;span lang=""&gt;tes &lt;/span&gt;belajar dan &lt;span lang=""&gt;berpikir, &lt;/span&gt;lebih &lt;span lang=""&gt;terampil &lt;/span&gt;dalam &lt;span lang=""&gt;studi &lt;/span&gt;dan lebih baik dalam hasil &lt;span lang=""&gt;akademisnya &lt;/span&gt;dibanding dengan &lt;span lang=""&gt;mahasiswa &lt;/span&gt;yang tidak memperoleh ajaran itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify" lang=""&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Hurst menyimpulkan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.99cm; margin-right: 1.16cm; margin-bottom: 0cm; widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt; &lt;span lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Data penelitian ini menunjukkan dengan jelas bahwa kuliah &lt;i&gt;speech &lt;/i&gt;tingkat dasar adalah agen &lt;i&gt;synthesa, &lt;/i&gt;yang memberikan dasar skematis bagi mahasiswa untuk berpikir lebih teratur dan memperoleh penguasaan yang lebih baik terhadap aneka fenomena yang membentuk kepribadian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Penelitian &lt;/span&gt;ini menjadi penting bagi kita, bukan karena dilengkapi dengan data &lt;span lang=""&gt;statistik &lt;/span&gt;yang &lt;span lang=""&gt;meyakinkan &lt;/span&gt;atau karena berhasil memberikan &lt;span lang=""&gt;gelar doktor &lt;/span&gt;bagi &lt;span lang=""&gt;Hurst, &lt;/span&gt;tetapi karena &lt;span lang=""&gt;erat kaitannya &lt;/span&gt;dengan &lt;span lang=""&gt;prospek retorika &lt;/span&gt;di masa depan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.99cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 3.68cm; text-indent: -3.68cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;Rujukan Penuh :  Rakhmat, Jalaluddin. 2006. &lt;i&gt;Retorika Modern Pendekatan Praktis&lt;/i&gt;. Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosda Karya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8455357203559691449-2647743593894052893?l=kpi-staipersis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/feeds/2647743593894052893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/07/sejarah-perkembangan-retorika.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/2647743593894052893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/2647743593894052893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/07/sejarah-perkembangan-retorika.html' title='SEJARAH PERKEMBANGAN RETORIKA'/><author><name>HMJ KPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13828611505631743873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='16' src='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Sg7PQuakk9I/AAAAAAAAAEI/csWQTzvhxsk/S220/KPI+SURAT.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/RqbDYbV7rfI/AAAAAAAAAAk/KhpEr9TQzjY/s72-c/jackraider.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8455357203559691449.post-5317749006451219428</id><published>2007-07-25T10:16:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T04:37:17.383+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>“Kewajiban Menutup Aurat Bagi Wanita”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/RsK8xrV7riI/AAAAAAAAAA8/-dCb-JxWZ4w/s1600-h/avatar2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/RsK8xrV7riI/AAAAAAAAAA8/-dCb-JxWZ4w/s320/avatar2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098845289771150882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;Oleh: Dhanyawan Haflah&lt;/i&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8455357203559691449&amp;postID=5317749006451219428#sdfootnote1sym"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8455357203559691449&amp;postID=5317749006451219428#sdfootnote1sym"&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Ahad, 14 Shafar 1428 H bertepatan dengan 4 april 2007, Diadakan diskusi sederhana yang diselenggarakan  oleh Ikatan Pemuda dan Remaja Masjid (IPRM) Sukamanah menghadirkan Saudari Neni H (Anggota Aliansi Perempuan Pembebasan) dan Sodari Nita (Alumnus PPI 3 Pamengpeuk).  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Pada kesempatan itu, Saudari Neni menghadirkan sebuah makalah “Kewajiban Menutup Aurat Bagi Wanita”. Walaupun makalah itu dihadirkan oleh salah seorang anggota Aliansi tersebut, saya husnudzon, penulis pasti meminta pertimbangan pada rekannya yang lain sesama anggota Aliansi. Penulis makalah tersebut yang saya kenal, saya tahu keilmuannya dan semangatnya dalam mencari ilmu saat-saat ini. Makanya tulisan ini tidak saya tujukan kepada sang penulis, tetapi kepada seluruh anggota Aliansi yang lainnya yang pasti tidak akan membiarkan saudari saya menyususn makalah itu seorang diri.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Ini hanyalah catatan kecil, catatan yang didasari keheranan atas makalah yang saya baca&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;Beberapa Catatan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Didalam  pengutipan Q.s. an-Nuur [24]: 31, diterangkan bahwa   &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;i&gt;Ayat ini tampak jelas, bahwa wanita muslimah wajib untuk menghamparkan kerudung hingga kepala, leher, dan juyub (bukaan baju) mereka”. &lt;/i&gt;Sejak kapan juyub diartikan dengan bukan baju?&lt;/p&gt; &lt;ol start="2"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Beralih  ke halaman ke dua, disana tertulis:&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;i&gt;Sementara itu, yang di maksud dengan jilbab itu sendiri bisa bermakna milhafah (baju kurung yang longgar dan tidak tipis), kain (kisa`) apa saja yang dapat menutupi atau pakaian (Tsawb) yang dapat menutupi seluruh tubuh. Di dalam kamus al-muhith dinyatakan demikian.”.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Memang tidak jelas kamus al-Muhith halaman berapa, tetapi setelah saya lakukan pengecekan di dalam kamus tersebut terdapat ungkapan;&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote2anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8455357203559691449&amp;postID=5317749006451219428#sdfootnote2sym"&gt;&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Dan setelah kata Milhafah [Milhafah itu jika saya tidak salah mempunyai kata dasar lahafa bias juga alfaha (Fiil Madhi ta`diyyah) yang artinya menutupinya dengan selimut, (kamus al munawir, 2002: 1259)] sebenarnya masih ada kalimat lanjutan, yaitu:  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Atau apa-apa yang &lt;u&gt;menutupi dengannya pakaiannya dari atas &lt;/u&gt;seperti Milhafah&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8455357203559691449&amp;postID=5317749006451219428#sdfootnote3sym"&gt;&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;, atau kerudung”.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Saya jadi bertanya apakah lupa atau sengaja lanjutannya tidak di kutif?, padahal hal itu sama pentingnya.&lt;/p&gt; &lt;ol start="3"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Kemudian,  pengutifan dari para ulama tentang pengertian jilbab, ada beberapa  catatan:&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; a.) Pengertian pertama penulis mengutif dari &lt;b&gt;Tafsir Ibn Abbas: 137&lt;/b&gt;. saya belum tahu kitabnya cetakan mana dan tahun berapa, tetapi yang pasti isi insya allah sama. Setelah di cek, pendapat tersebut ada dalam halaman &lt;b&gt;264 &lt;/b&gt;untuk cetakan &lt;b&gt;Haramain&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;426&lt;/b&gt; untuk cetakan lain, dan hanya terdapat ungkapan  &lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Yang berbeda pengertiannya dengan yang ditulis oleh penulis makalah bahwa;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;i&gt;Kain penutup atau baju luar/mantel yang menutupi seluruh tubuh wanita”&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; padahal mengaku mengutif dari Tafsir ibnu Abbas. Saya jadi bertanya, memangnya yang jadi rujukan itu kitab Tafsir Ibnu Abbas yang mana, apakah sama &lt;b&gt;Tanwiirul Miqbas min Tafsiiri Ibnu Abbas ? &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; b.) Pertanyaan serupa juga tertuju pada pengertian yang kedua, saya cek kitab Jalalain yang ternyata ada pada halaman &lt;b&gt;453 &lt;/b&gt; bukan &lt;b&gt;307.&lt;/b&gt; (Cetakan boleh beda tetapi isi insya Allah, sama) memang terdapat ungkapan:  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.91cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; yang artinya &lt;i&gt;“Baju panjang (mula`ah) yang meliputi seluruh tubuh wanita.”&lt;/i&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Tetapi dalam kitab &lt;b&gt;Jalalain&lt;/b&gt; (Dua Imam yang bernama Jalal).yang saya baca tidak tertulis bahwa itu adalah ucapan Imam Nawawi. Begitu juga dalam &lt;b&gt;Jalalain bi Hasyiati ash-Showiy&lt;/b&gt;&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote4anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8455357203559691449&amp;postID=5317749006451219428#sdfootnote4sym"&gt;&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;. Wallahu a`lamu. Dan sebenarnya masih ada lanjutannya Pendapat tersebut yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Mengendorkan sebagiannya atas wajah….”&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; c.) Untuk pengertian yang poin ketiga yang ditulis dalam makalah, Dalam Tafsir Shafwah at-Tafsir karangan &lt;b&gt;Muhammad Ali al-Shobuni&lt;/b&gt;, memang terdapat ungkapan:        &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; yang artinya “Jilbab &lt;i&gt;(baju) luas yang menutupi seluruh kecantikan dan perhiasan wanita”&lt;/i&gt; yang penulis kutif untuk makalahnya. Tetapi mengapa meninggalkan tulisan lanjutan dari kitab tersebut yang menuliskan bahwa:&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “…Supaya menutup wajah-wajahnya &lt;u&gt;dari atas kepalanya dengan jilbab…&lt;/u&gt;”.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Apakah kebetulan, jika kesalahan tersebut terjadi berulang ulang. Hanya mengambil kutifan sebagian saja, dan meninggal kan potongan kutipan lanjutannya?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-top: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; d.) Pertanyaan untuk pengertian poin ke empat yang “katanya” dikutif dari &lt;b&gt;Tafsir Ibnu Katsir.&lt;/b&gt; Yaitu:&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;u&gt;“&lt;i&gt;Pakaian seperti terowongan (baju panjang yang lurus sampai ke bawah) selain kerudung.” &lt;/i&gt;&lt;/u&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Penulis makalah hanya menuliskan bahwa pendapat itu diambil dari Tafsir Ibnu Katsir tanpa menyertakan jilid dan halaman. Setelah saya berusaha mencari dan mengecek, ternyata naskah asli dari Kitab tersebut ketika menafsirkan al-ahjab: 59&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote5anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8455357203559691449&amp;postID=5317749006451219428#sdfootnote5sym"&gt;&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;, hanya terdapat ungkapan:  &lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Jilbab adalah kain (pakaian) di atas Khimar (Kurudung). Yang berkata seperti itu adalah &lt;b&gt;Ibnu Mas`ud&lt;/b&gt; Ubaidah, Hasan al-Bashry, Sa`id bin Jubaer, Ibrahim al-Nakho`I, Atha` al-Khurasani dan yang lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;   &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Sekali lagi saya yang bodoh ini bertanya, Kitab Ibnu Katsir mana yang digunakan sehingga berbeda dengan yang asli?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Dan sekaligus pertanyaan untuk poin pengertian ke enam dimana penulis makalah menyatakan bahwa:&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.91cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;i&gt;Ibnu Mas`ud meriwayatkan, “Bahwa jilbab adalah Rada`u yaitu terowongan (pakaian yang lurus tanpa potongan yang menutupi seluruh badan)”. Tafsir al-Qurtubi.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Ibnu mas`ud mana yang dimaksud? jelas bahwa pengertian dari ibnu mas`ud adalah seperti yang ditulis di Atas. Walaupun diambil dari Kitab Ibnu Katsier, bukankah Ibnu Mas`ud yang dikenal adalah itu-itu juga. Dari mana juga Rada`u diartikan dengan Terowongan?&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; e.) Dan yang paling menggelikan, poin lima.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.91cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “…&lt;i&gt;.Dan juga juyub mereka untuk menutup dada-dada mereka” &lt;/i&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Emangnya &lt;i&gt;juyub&lt;/i&gt; artinya apa. Kok… dada dipakai untuk menutup dada?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; f.) Kemudian pada poin persyaratan nomor lima, syarat pakaian wanita muslimah adalah &lt;i&gt;Menutupi tsiyab (pakaian Rumah, semacam daster)&lt;/i&gt;. Bukan kah di awal halaman kedua makalah diterangkan bahwa jilbab adalah &lt;i&gt;pakaian (tsawb) yang dapat menutupi seluruh tubuh. &lt;/i&gt;Mengapa di poin lima tsiab diartikan &lt;i&gt;pakaian rumah, semacam daster. &lt;/i&gt;Bukan kah &lt;b&gt;Tsiab&lt;/b&gt; itu jamak dari kata &lt;b&gt;tsawb&lt;/b&gt;, mengapa tsawb digunakan untuk menutupi tsiab.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Beberapa Pengertian yang saya Temukan (menguatkan kalimat pengertian yang dihilangkan):&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;1. Al-Maraghi, jilid 18: 133&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 1.11cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Jilbab, yang berada di &lt;b&gt;atas khimar&lt;/b&gt;”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;2.  Ibnu Katsier jilid 3:518  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 1.11cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Rada`&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote6anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8455357203559691449&amp;postID=5317749006451219428#sdfootnote6sym"&gt;&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;, &lt;b&gt;diatas khimar&lt;/b&gt;”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;yang menyatakan bahwa itu adalah ungkapan &lt;b&gt;Ibnu Mas`ud&lt;/b&gt;, Ubaidah, Hasan al-Bashry, Sa`id bin Jubaer, Ibrahim al-Nakho`I, Atha` al-Khurasani dan yang lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;3. Lisaanul Arab.(1994) Juz 1:272&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 1.11cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Baju yang lebih luas dari khimar, bukan Rada`, perempuan menutupi dengannya &lt;b&gt;kepala dan dadanya.”&lt;/b&gt; Dan masih banyak arti lain dalam Kitab tersebut..  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;4.Mu`jam al-Wasith: 128&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 1.11cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “ Jilbab: gamis, baju yang meliputi &lt;b&gt;&lt;u&gt;seluruh jasad&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;, khimar, dan apa-apa yang dipakai &lt;b&gt;&lt;u&gt;diatas Baju&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; seperti milhafah  &lt;sup&gt; &lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote7anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8455357203559691449&amp;postID=5317749006451219428#sdfootnote7sym"&gt;&lt;sup&gt;7&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Dampak (di)hilang(kan)nya beberapa kaliamat asli dari sumber rujukan, mempengaruhi kesimpulan itu sendiri yang diberikan dalam makalah, yaitu;  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;i&gt;Jilbab adalah pakaian luar (Menyerupai mantel) yang luas dan tidak terputus (Seperti terowongan) yang menutupi pakaian rumah/pakaian sehari-harinya (al-Mihnah) dan seluruh bagian tubuhnya kecuali muka dan kedua talapak tangan.”&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Kesimpulannya tidak menyebutkan bahwa jilbab posisinya berada diatas khimar dan menutupi seluruh tubuhnya dari atas kepala karena memang dalam pengertian awal kalimat itu ada yang dihilangkan dari aslinya. Hanya menyebutkan &lt;i&gt;menutupi pakaian rumah&lt;/i&gt;, yang sebenarnya tidak terdapat pada pengertian yang diberikan sebelum dikoreksi yang hanya menyebut menutupi seluruh tuibuh saja. Dan banyak kesimpulan yang tidak sesuai dengan pengutipan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Dan memperhatikan praktek yang dilakukan oleh perempuan aliansi tersebut, mereka menyebut bahwa jilbab itu adalah seperti itu, dengan baju yang &lt;b&gt;sekali ulur tanpa potongan&lt;/b&gt;. Plus &lt;b&gt;kerudung &lt;/b&gt;Bersesuaian dengan pengertian ketiaga yang katanya dikutif dari Ibnu Katsir yang belum sempat dibuktikan kebenarannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Kalau memang benar yang dimaksud oleh Aliansi Perempuan Pembebasan konsisten mengartikan Q.s. al-Ahzab: 59 adalah &lt;b&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;mode&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; pakaian wanita (Ini lho Muslimah [jilbab]), seharusnya, prakteknya adalah  jilbab wanita bukan bertitik tekan pada baju yang harus sekali ulur, seperti yang aliansi contohkan dan menggunakan poin persyaratan yang kedua yaitu: &lt;i&gt;Menutup tubuh saja, tidak dari atas kepala (mala`ah), sedangkan penutup kepala menggunakan kerudung, sehingga tidak tampak aurat.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Tetapi jika sudah membaca pengertian jilbab, haruslah menutupi Khimar (kerudung) dan pakaian. Artinya juga, bukan hanya dua potong, tetapi malah &lt;b&gt;tiga potong&lt;/b&gt;, yang urutannya: Baju, kerudung yang menutup dada (Q.s. an-Nuur: 31) kemudian ditutup lagi oleh Jilbab dari atas (kepala) sampai bawah.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;b&gt;(Kecuali memang ada makna lain yang terkandung dalam ayat tersebut?!!!). &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Tetapi sayang…pengertian bahwa jilbab posisinya diatas khimar terlanjur bersembunyi (atau: Disembunyikan), lihat saja…kata-kata yang &lt;b&gt;hilang&lt;/b&gt; dari pendapat &lt;b&gt;Muhammad Ali al-Shobuni&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Ibnu Mas`ud&lt;/b&gt; serta dari &lt;b&gt;kamus al-Muhith&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Jalalain&lt;/b&gt; adalah keterangan bahwa jilbab itu diatas Kerudung (khimar) atau ditutupkan dari atas (Ditambah keterangan lain yang saya tambahkan). Penulis malah menekankan kata terowongan yang tidak jelas. Saya tidak mengtakan bahwa pendapat yang hilang itu sengaja dihilangkan untuk menguatkan pendapat saja.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Sudahlah ini hanya catatan kecil (catatan kecil kok banyak he..), sebelum membicarakan masalah pakaian wanita (jilbab), saya bahas dulu makalah yang diberikan. Belum kemana-mana, kok..!&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Untuk akhirnya, kita coba bersama-sama berdiskusi dengan baik. Saya tidak mau, Perempuan anggota Remaja Mesjid yang saya pimpin, berdiskusi tanpa tahu landasan awal apa yang hendak didiskusikan. Atua dibodohi, karena dalam masa-masanya mencari ilmu tanpa diajari tentang landasan ilmu yang didapatinya. Seperti dengan pengutifan yang belum dicek kebenarannya seperti ini (Mudah-mudahan kekhawatiran saya tidak benar). Kita coba berpikir terbuka, tentang ilmu. Jangan sampai kita menerima begitu saja pemahaman yang datang, tanpa tahu kepastiannya. Sehingga menyeret Saudara-saudara saya pada pintu taqlid, mengharuskan untuk tetap berpegang pada pendapatnya tanpa tahu alasan dalilnya, atau tetap bertahan pada pendapat yang menurut diri sendiri itu tidak sesuai, hanya dengan bermodal semangat mempertahankan pendapat saja. Semoga semangat belajar dapat terjaga dan mendapat yang layak untuk didapatkan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Tulisan ini hanya keheranan saja dan belajar meneliti, siapa saja yang sekiranya berkenan untuk mengklarifikasi tulisan ini, saya akan terima dengan baik untuk selanjutnya saya pelajari kembali. Biasa….untuk belajar…..Terimakasih.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;NB:  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;1. Tulusan Catatan Kecil gak apa-apa yang banyak juga ganti judul dengan catatan besar gak enakeun…!&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;2. Kalimat asli dari makalah Aliansi Perempuan Pembebasan dicetak miring.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;3. Kosa-kata dari kamus al-Asr (Yang didalam kurung merupakan halaman)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Gamis, kemeja, baju (hal: 1471)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Pakaian, garmen (hal:639)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;yang disamarkan, diberi kedok/topeng (hal: 1796)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;kerudung, jilbab, Burku` (Hal: 859)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Pakaian (hal:1541)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Pakaian (hal:967)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Selendang, baju kurung( Hal: 1807)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Kain pinggang, kain penutup badai (mungkin Badan yang dimaksud)[hal: 84]&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;3. Boleh ikut nimbrung satu keterangan?&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Ali Telah menceritakan kepadaku, Ali, dia berkata: telah bercerika kepadaku Abu shalih, dia berkata: telah menceritakan padakau Muawiyyah dari Ali dari Ibnu Abbas, dia berkata: Firma Allah swt (Ya ayyuhanabiyyu Qul li azwajika….) Allah swt memerintahkan perempuan yang mu`min apabila keluar dari Rumah-rumah mereka untuk satu keperluan untuk menutupi wajah-wajah mereka dari atas kepala mereka dengan jilbab-jilbab dan menampakan satu mata (Tafsif al-Thobariy. 1992. Beirut: jilid 10: 332)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Kalau itu benar-benar yang dimaksud, itulah jilbab! (Ngerti gak…..)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Wiiih enam halaman…….!!!!!!&lt;/p&gt; &lt;div id="sdfootnote1"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8455357203559691449&amp;postID=5317749006451219428#sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt;  Ketua Ikatan Remaja Masjid al-Amanah Sukamanah-Bojongkunci&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote2"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote2sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8455357203559691449&amp;amp;postID=5317749006451219428#sdfootnote2anc"&gt;2&lt;/a&gt;  Fairuj Abadiy. Kamus al-Muhith.  Muassasah Risalah. 1407 H/1987 M.  Hal: 88   &lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote3"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote3sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8455357203559691449&amp;postID=5317749006451219428#sdfootnote3anc"&gt;3&lt;/a&gt;  Didalam kamus al-Muhith: 1102 diartikan: Baju di ats baju&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote4"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote4sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8455357203559691449&amp;amp;postID=5317749006451219428#sdfootnote4anc"&gt;4&lt;/a&gt;  Hasyiyah Alamah al-Showiy `ala tafsiri Jalalain  1994. Darul Fikr.  juz 3: 355&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote5"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote5sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8455357203559691449&amp;postID=5317749006451219428#sdfootnote5anc"&gt;5&lt;/a&gt;  Ibnu Katsier jilid 3:518&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote6"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote6sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8455357203559691449&amp;amp;postID=5317749006451219428#sdfootnote6anc"&gt;6&lt;/a&gt;  dalam Kamus al-munawwir: 490, diartikan: Pakaian, sejenis mantel,  jubah, gamis. (ingat, ketiganya tidak dipakai sampai menutup kaki  hanya pakaian luar)&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote7"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote7sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8455357203559691449&amp;amp;postID=5317749006451219428#sdfootnote7anc"&gt;7&lt;/a&gt;  Mu`jam al-Wasith: 818 dan al-Muhith:1102 Milhafah diartikan (Baju  diatas Baju                 kain bergaris)&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8455357203559691449-5317749006451219428?l=kpi-staipersis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/feeds/5317749006451219428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/07/kewajiban-menutup-aurat-bagi-wanita.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/5317749006451219428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/5317749006451219428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/07/kewajiban-menutup-aurat-bagi-wanita.html' title='“Kewajiban Menutup Aurat Bagi Wanita”'/><author><name>HMJ KPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13828611505631743873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='16' src='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Sg7PQuakk9I/AAAAAAAAAEI/csWQTzvhxsk/S220/KPI+SURAT.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/RsK8xrV7riI/AAAAAAAAAA8/-dCb-JxWZ4w/s72-c/avatar2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8455357203559691449.post-5650982397421237842</id><published>2007-07-25T10:08:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T04:37:17.711+07:00</updated><title type='text'>Gelap</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/R4T2jTsnohI/AAAAAAAAABM/1Tjf0eAp9MI/s1600-h/PIC_0015.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153514960061964818" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 236px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" height="320" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/R4T2jTsnohI/AAAAAAAAABM/1Tjf0eAp9MI/s320/PIC_0015.JPG" width="283" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/R4T1wjsnogI/AAAAAAAAABE/4EriOHHI3hM/s1600-h/PIC_0015.JPG"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Rqa_5rV7rdI/AAAAAAAAAAU/WZVP9H2TW1g/s1600-h/100_3031.JPG"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: center"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: center"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;by :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Rana Setiana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Kala gelap malam yang dingin, bermandikan cahaya rembulan tersepuh keperakan. Bersama derap kencang irama disko. Tersayup terdengar keluar. Berhias kelap-kelip lampu night club, bergoyang warna-warni menghangatkan kesunyian malam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Di pojok diskotik terlihat bartender sedang meracik minuman. meramu dengan gaya akrobatik yang hebat, indah dan terlatih. Aku bersama ketiga sahabatku manghabiskan malam, bertemankan anggur, LSD (obat gila) dan pelacur. Penari penghibur yang penuh gombal dan rayu. Mereka mengajak turun bergabung.Berjingkrak ke tengah berdance ria didalam tembok khayalan. Mencari mimpi indah, terbang dalam halusinasi gila dan terbuai melayang bersama lagu dan alunan musik. Menina bobo hingga sang mentari membelai pagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Pagi telah datang. Malam pun berganti siang. Dikala sang surya membelai sayang, beriring angin berjingkrak riang. Berputar senang berbisik salam, Pada rembulan di langit malam. Bertabur bintang gemintang berkerlip terang, dan hilang bersama musik kencang, tertelan sunyi kukuruyuk pagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Dalam sepi kudengar suara menyapa keras. Terdengar dekat sekali, memecah sunyi pagi. “mas, mas! bangun mas!”, tak jelas dan tak pasti. Apa yang kudengar tepat di sampingku. “Mas, mas! Bangun!”, “mas! Tolong bangun, sebentar lagi kami harus buka”. Deretan kata-kata yang masih tak dapat aku terjemahkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Lalod (lama loading), otakku kosong. Kata-kata yang terucap, seakan-akan beterbangan, bergoyang dalam kegelapan. “mas, mas! Bangun, kalau pagi kami yang buka”. Badanku diguncang-guncangnya supaya aku terbangun. Tapi sayang mataku lelah tak dapat kubuka. Badanku lunglai tertelungkup dan aku tak tahu apa yang aku peluk.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;“&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Jak, Rojak bangun!” “kamu kenapa Jak?” sayup-sayup terdengar suara memanggil diantara sekian banyak suara, mereka mengenalku. Mungkin!? mereka teman-temanku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;“&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Man, Herman” “Rud, Rudi” “To, Yanto! Tolong Bantu aku!” bangunkan aku dari kegelapan ini”. Sial!! sungguh sial. Kenapa denganku? Lidahku kelu. Tak ada satu patah katapun terlontar dari bibirku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;“&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Permisi, apakah kalian ini temannya?” “bisakah kailian membawanya dari restoran kami? Saya manager bandung cuisine”. Terdengar kata-kata tak henti-hentinya berderet panjang. Sungguhsayang aku tak tahu apa yang dakatakannya. “tenang saja pak, teman kami sedang memanggil ambulance” “karena saya rasa dengan tubuhnya yang membiru. Mungkin saja Rojak ODe (Over Dosis). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Deretan kata tak henti-hentinya berderet mengiang di kepala. Dunia apa ini?? Gelap memekat di hadapanku. Kosong melongpong, semua sama hitam. Hanya bunyi keras yang terus mengaung di telinga. Ribuan kata beterbanagn, berputar-putardidalam kepalaku. Muncul kemudian hilang entah kemana. Kini suasana menjadi dingin, sepi dan sunyi. Terdengar hanya desah nafas dan detak jantung yang terus berdebar resah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Oh sungguh gelap tak bercahaya. Hitam kelam tak berwarna. Mataku yang belo besar pun kini tak berguna. Ku coba meraba kiri dan kanan, namun tetap saja percuma. Keterasingan, sepi, sendiri dan kicauan bunyi yang terus berkicau tiada henti silih berganti, kemudian bersembunyi. Hilang dan muncul kembali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Aku putuskan untuk diam. Tidak melakukan sesuatu. Akhirnya tak seberapa lama kududuk termenung menunggu. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat putih. Sebuah titik berdiameter kira-kira satu inci. Bulatan kecil itu lama kelamaan berangsur mendekat, menghampiriku. Berawal dari bulatan kecil. Sedikit demi sedikit bulatan itu membesar, hingga besar. Sebesar lubang sumur galian di kampungku yang menempel di tirai hitam yang gelap.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Aku bangkit bangun menghampiri dan meloncat masuk ke dalam lubang. Ternyata bulatan itu merupakan pintu cahaya penghubung untuk memasuki tempat yang penuh kilauan cahaya. Kulanjutkan melangkah masuk ke dalam cahaya yang sangat terang. Mataku tak sanggup melihat karena silau, walau lama kelamaan pupil mataku mulai terbiasa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Semua tampak jelas. Wow dunia yang sungguh luar biasa! Membuatku takjub, akan keindahan yang memukau. Berkilauan berhias ribuan pohon berdoyang rindang. Berjejer berderet, seakan ingin menutup cahaya langit, bertabur indah warna-warni bunga indah mekar tersapu angin bertaburan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Karena terpuaku akan indahnya dunia yang penuh warna. Aku tersentak kaget. Serentak segera kupalingkan wajahku seketika. Kuhadapkan kearah suara memanggil keras “Jak , Rojak!” mengaung ditelingaku. Kemudian hilang begitu saja. Kutengok ke belelakang ke arahsuara, namun tidak ada apa-apa. Kupalingkan kembali pandanganku kearah semula. Tapi!!! Apa yang terjadi ?!! dunia yang penuh cahaya, kini berubah hitam pekat, Gelap gulita. Aku tak mengerti. Cahya yang menyilaukan mata kini lenyap begitu saja. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Busyet ada apa ini? sesungguhnya dimana aku? Apakah ini mimpi? Atau justru aku sudah mati. Oh tidak!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Biarlah apa yang terjadi kujalani saja. Aku lanjutkan dan terus kutelusuri dunia kegelapan penuh hati-hati. selangkah demi selangkah kutapaki bersama gemuruh yang memekakkan telinga. Tak pernah berhenti, berderet beterbanagn melayang, kemudian hilang dan muncul lagi. Hilang, mincul dan muncul lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Kakiku mulai terasa pegal. Karena terus berjalan. Langkah demi langkah kakiku mulai lelah. Dan tidak tahu berapa jauh aku melangkah. Akhirnya dari kejauhan tampak sebuah cahaya besar. Mendekat dan menyinari tubuhku berrsama alam sekitar, hingga maatku mampu menangkap semua yang ada di sekelilingku, walau semua tampak sama putih dan serba putih.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Putih, bersih. Ketenangan yang penuh kemegahan. Laksana alam suci yang tak ternoda. Walau aku tak tahu, putih tak ternoda atau alam menjemukan yang penuh kejenuhan, perlambang tiada keinginan. Memusnahkan warna-warni kehidupan. Kesenangan, kegembiraan menuai harapan. Atau justru warna-warni itu sebuah noda. Agh, terserahlah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Tidak sengaja dari kejauhan, mataku menangkap diatas. Di sana aku melihat ada dua orang yang sedang berjalan mendaki di jalan tinggi menjulang. Tinggi kemiringannya kira-kira lima puluh sampai enam puluh derajat. Hatiku akhirnya mulai merasa lega. Aku tidak sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Aku dekati dan ku perhatikan. Mereka berjalan di jalan yang berbeda. Di sana ada dua jalan. Jalan pertama merupakan deretan anak tangga menjulang tinggi. Sedangkan jalan yang ke dua berupa jalan biasa yang menanjak jauh ke angkasa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Orang yang berjalan ditangga adalah seorang wanita bergaun putih. Wanita berparas tidak asing dan sungguh akrab seali di mataku. Emh… siapa yah?? Setelah perhatikan lebih. oh iya!! Dia kan kekasihku. Emh.. bukan,bukan. Tepatnya mantan kekasih. Semenjak orang tuanya tau. Aku orang tak punya, harta maupun tahta. Hanya seorang anak pengayuh becak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Begitu juga orang di jalan ke dua. Seorang pria tua yang mendorong becak. Itulah ayahku. Kuingat dia memaki dan mengusirku dari rumah. Tapi biarlah. Ayah tetap ayah. Apalagi dengan cucuran keringatnya aku besar dan dibesarkan. Tapi apa yang mereka lakukan di sini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Setelah aku perhatkan, ternyata dua jalan ini saja. Jalan yang dapat dilalui, walau tidak tahu. Kemana jalan ini menuju. Yang jelas aku harus memilih segera, jalan mana yang aku ambil. Jalan ke satu atau jalan ke dua. Mengejar wanita yang kucinta, atau berjalan bersama dan membantu ayah. Supaya kami bias mengarungi dunia yang aneh ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Biarlah aku ambil jalan ke dua. Aku langkahkan kakiku. Kucoba berlari. Mendaki menuju ayah. Lari dan terus berlari. Kutambah kecepatan supaya lebih cepat terkejar. Tapi tunggu! mana ayah?? Dia hilang. Kucoba berteriak memanggilnya.”Pak, bapak” tapi teriakan ku sia-sia, percuma. Lenyap begitu saja bersama dirinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Tunggu-tunggu!!! apalagi ini!? ada yang aneh dengan jalannya! jalan yang aku daki menjadi rata. Ternyata ketika aku terus berlari dan mendaki menuju ayah. Tanpa terasa tinggi kemiringan jalan menjadi datar nol derajat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Apa maksud semua ini?! Ah entahlah. Yang penting aku harus keluar dari alam ini. Kulihat sekitar. Tidak ada jalan lain. Hanya jalan yang pertama yang tetap ada dan menjulang. Akan kucoba jalan pertama. Aku berlari kencang mendekati anak tangga. Kulangkahkan kakiku menapaki deretan anak tangga. Kudaki dan aku telusuri tangga demi anak tangga kudaki. Aku tambah kecepatan hingga kuberlari mendaki tinggi. Gadis itu dari bawah aku lilhat. Dia tapaki kakinya terus dan pasti. Gerakan yang anggun dan indah ia telusuri. Sungguh luar biasa betapa cantiknya dia. Tubuh yang tinggi semampai, rambut hitam legam merumbai, bergerak kanan kiri. Itulah Risma. Dari dulu dia tidak berubah cerdas dan menarik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Aku daki dan terus kudaki. Kutancap kecepatan mengejar Risma. Jalan yang aku daki, semakin tinggi sulit. Selain licin juga semakin jauh aku berlari. Risma pun semakin menjauh dan akhirnya hilang. Tinggi kemiringan terus naik bertambah. Semakin terus kudaki kemiringan terus tiada henti-hentinya bertambah. Aku tak pedulikan semua itu. Yang penting kudaki dan terus kudaki. Ketika tinggi kemiringan mencapai derajat sembilan puluh, Kakiku terpeleset dan AAAAA …AAAA tolong AAAAaku terjatuh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;AAAAA… Serentak tiba-tiba aku terbanygun dari tidur. Hah, hah, hah… nafasku terengah-engah. Jantung berdebar kencang. Sekujur tubuh basah oleh keringat. Tanganku mencengkeram erat seprai tempat tidur. Mataku melotot seakan mau keluar dari kelopak. Ternyata mimpi. Ya Allah, dimana aku?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-INDENT: 1.27cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;Aku melihat jarum infuse menusuk tangan. Aku tengok kiri kanan yang serba putih dan bersih. Dimana aku? Inikan Rumahsakit! Memang kenapa aku? Tak lama aku bertanya-tanya ada apa yang terjadi? Tiba-tiba aku kudengar disamping kananku terdengar suara memanggil. “Jak, Rojak!” serentak aku palingkan wajahku dan ku lihat. Tapi, aku tidak melihat siapa-siapa. Kuhela nafas untuk menenangkan fikiranku, sambil memalinghkan wajh ke arah semula. Namun, apa yang terjadi semua yag serba putih, menjadi gelap memekat. Agh … mulai lagi. Tidak-tidak, tidak, TIDAAA …K.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bandung, 12 Februari 07&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS, cursive;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8455357203559691449-5650982397421237842?l=kpi-staipersis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/feeds/5650982397421237842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/07/gelap.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/5650982397421237842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/5650982397421237842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/07/gelap.html' title='Gelap'/><author><name>HMJ KPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13828611505631743873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='16' src='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Sg7PQuakk9I/AAAAAAAAAEI/csWQTzvhxsk/S220/KPI+SURAT.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/R4T2jTsnohI/AAAAAAAAABM/1Tjf0eAp9MI/s72-c/PIC_0015.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8455357203559691449.post-5272628794317819914</id><published>2007-07-25T09:56:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T04:37:17.853+07:00</updated><title type='text'>HAND PHONE AJAIB</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Rqa9hrV7rcI/AAAAAAAAAAM/T_0PIaQhvR8/s1600-h/100_3107.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 166px; height: 123px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Rqa9hrV7rcI/AAAAAAAAAAM/T_0PIaQhvR8/s320/100_3107.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5090964815056973250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tolonglah, Bang!” kata sang laki-laki setengah baya yang duduk di sebelahku memelas “Saya butuh uang untuk ongkos !”   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt; Kupandangi lekat-lekat &lt;i&gt;hand phone &lt;/i&gt;berwarna biru tua itu. Penampilannya memang tidak meragukan. Meskipun Chargernya tak ada,&lt;i&gt; Key Pad&lt;/i&gt;nya masih mulus. LCD nya pun masih bersinar dengan terang..&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt; Aku terenyuh juga. Tak apalah merogoh seratus ribu perak untuk sebuah &lt;i&gt;hand phone&lt;/i&gt;. Lagipula, Adikku pasti senang kalau Aku membawanya sebagai oleh-oleh. Dua menit kemudian, transaksi berlangsung di tepat di bawah gerbang tol Cileunyi. Laki-laki itu mengucapkan terimakasih padaku dan turun di Padalarang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Tiga jam kemudian Aku tiba di Sukabumi.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;“Wah,” seru adikku bersemangat “Makasih bang Arman!”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Aku tersenyum bahagia melihat senyum berkembang di wajah adikku.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;…&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Hari liburku yang ke dua di Sukabumi berhias keluhan Adikku&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;“Bang!” Keluh adikku “kok baterainya &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt; penuh-penuh ya?”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt; Kemarin malam Aku membelikannya &lt;i&gt;charger&lt;/i&gt;. Adikku senang sekali. Hand phone itu telah tergantung sejak semalam di &lt;i&gt;chargernya&lt;/i&gt;. Namun, penunjuk baterainya masih saja terus melaju hingga siang ini. Mana sering tidak masuk. Ujung chergernya harus ditekan keras-keras supaya listriknya masuk.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Aku kasihan juga padanya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;“Ntar deh Abang beliin baterainya”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Adikku pun tersenyum senang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt; Sorenya Aku menjinjing plastik hitam. Isinya pastilah sebuah baterai HP. Sejak saat itu, baterai baru menghuni hand phone adikku.. chargernya memang masih saja harus ditekan keras-keras supaya listrik mengalir masuk.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt; Setelah beberapa hari, Hand phonenya mulai terisi dengan banyak nomor. Dan, masalah lain pun dimulai. Sinyal &lt;i&gt;hand phone &lt;/i&gt;itu ternyata tidak begitu kuat. Kadang pembicaraan terputus ditengah tengah. Mengirim SMS pun susahnya setengah mati.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt; Awalnya kupikir &lt;i&gt;sim cardnya &lt;/i&gt;yang bermasalah. Aku pun memberi Adikku sim card baru dari operator yang lain. Tapi hasilnya tetap sama. Kemudian Aku membelikannya antena baru. Kupikir meungkin komponen itu yang jadi masalah. Hasilnya? Saat aku coba menelepon dari &lt;i&gt;hand phone &lt;/i&gt;adikku ke HP ku senddiri yang ada di sakuku terdengar jawaban&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;“&lt;i&gt;maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, atau berada di luar jangakuan area, silakan coba beberapa saat lagi,… the number you are calling is…”&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt; Aku tak tahan lagi. Tawaku meledak. Tapi, demi melihat wajah adikku yang berlipat-lipat karena kecewa, Aku berjanji akan membelikannya HP baru bulan depan. Wajahnya pun mulus kembali.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;…&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt; Sebulan kemudian, Aku mengganti Hand phone itu dengan HP baru yang kubeli dari counter resmi di Bandung dan mengirimnya lewat pos wesel. Namanya &lt;i&gt;hand phone &lt;/i&gt;baru, kupikir pasti tak ada masalah. Adikku kini tak lagi merajuk. Tak pada ku, pun pada Ibu. Aku sudah kapok membeli barang di jalanan. Apalagi di Bis dari orang yang baru saja kukenal. Hand phone itu kemudian kuminta kembali dari adikku. Aku berjanji takkan menjualnya. Akan kujadikan souvenir yang mengingatkanku pada satu hal: &lt;i&gt;harga menentukan kualitas&lt;/i&gt;.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;……&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt; Suatu sore, iseng iseng Aku membaca surat kabar ditemani secangkir teh panas. Di kolom Surat pembaca Aku menemukan tulisan berjudul “&lt;i&gt;Hand Phone&lt;/i&gt;”. Disana tertulis:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Satu bulan yang lalu, tepatnya tanggal 21 Maret saya menaiki angkot jurusan Majalaya-Cileunyi. Saat itu rencananya saya akan berkunjung ke rumah kakak di Perum Kencana, Rancaekek. Angkot yang saya naiki sangat penuh. Ada tiga orang siswa SMU yang sedang berdiskusi tentang guru mereka yang killer, ada lima orang ibu yang tak henti-hentinya mengeluhkan harga beras, seorang kakek yang terkantuk-kantuk di pojok, serta seorang bapak yang merokok di samping saya.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Tiba di Perum saya turun dan membayar ongkos. Setelah beberapa meter dari angkot, baru saya sadari, hand phone saya telah raib dari saku baju saya. Kakak saya sudah mencoba untuk menghubungi dari HP nya. Tiga percobaan pertama masih terdengar nada sambung, tapi setelah itu, tak menyambung lagi. &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Surat ini saya tulis bukan untuk meminta yang mengambil atau menemukannya mengembalikannya pada saya. Saya telahmerelakan kepergian hand phone saya denganikhlas. Saya menulis surat ini untuk memberitahukan beberapa hal mengenai hand phone tersebut. &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Pertama.baterainya telah rusak. Untuk menchargernya hingga penuh butuh waktu semalaman. Hasil dari pengisian baterai tersebut hanya cukup untuk dipakai selama dua hari. Itu pun kalau tak ada telepon yang masuk. Bila ada, Hand phone tersebut paling kuat bertahan satu hari.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Yang kedua sinyalnya sangat lemah. Pembicaraan sering terputus ditengah perjalanan Saya telah mencoba berbagai jenis sim card. Namun,hasilnya nihil.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Yang ketiga mengenai SMS. Sama seperti menelepon, SMS pun sulit terkirim. Tapi saya mempunyai trik agar SMS dapat terkirim dengan mudah. Cobalah genggam antenenya kuat-kuat saat mengirin pesan. Insya Allah pengiriman dapat berjalan dengan lancar.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Demikianlah surat ini saya sampaikan. Mudah-mudahan orang yang menemukan atau mengambil hand phone saya dapat diberi ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi (bekas) hand phone saya tersebut.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt; Aku terpana membacanya. Jangan-jangan….&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt; Segera kupasangkan sim card ku ke HP ajaib ku. Aku coba mengirim SMS dan mengepalkan tanganku di antennanya. Ajaib! SMS langsung terkirim. Aku tergelak.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt; &lt;i&gt;Ring tone &lt;/i&gt;yang berdering menghentikan tawaku. Dari Ibu. Aku mengangkatnya dan mengucakan salam&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;“&lt;i&gt;Wa’alaikum salaam&lt;/i&gt;. Man! &lt;i&gt;hand phone&lt;/i&gt; Adikmu ngadat lagi.. Tadi Ibu sudah coba pergi ke counter, ternyata &lt;i&gt;hand phone&lt;/i&gt; itu palsu. &lt;i&gt;Casing&lt;/i&gt; dan segala &lt;i&gt;acsessorisnya&lt;/i&gt; memang baru, tapi mesinnya …tut tut tuuut”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt; Sampai di sana pembicaraan terhenti (Maklum &lt;i&gt;Sim card&lt;/i&gt;ku masih menghuni Hand phone ajaib). Aku cuma bisa melongo, ya Rabbi….&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 8.89cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 8.89cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt; Ciganitri, 25 Maret 2007&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8455357203559691449-5272628794317819914?l=kpi-staipersis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/feeds/5272628794317819914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/07/hand-phone-ajaib.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/5272628794317819914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/5272628794317819914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/07/hand-phone-ajaib.html' title='HAND PHONE AJAIB'/><author><name>HMJ KPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13828611505631743873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='16' src='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Sg7PQuakk9I/AAAAAAAAAEI/csWQTzvhxsk/S220/KPI+SURAT.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Rqa9hrV7rcI/AAAAAAAAAAM/T_0PIaQhvR8/s72-c/100_3107.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8455357203559691449.post-5160165353774382626</id><published>2007-07-09T11:21:00.000+07:00</published><updated>2007-07-20T22:50:51.347+07:00</updated><title type='text'>Menjadi ‘Great Public Speaker’</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh ASM. ROMLI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Makalah untuk disampaikan pada acara “Workshop: Menjadi Pembicara Hebat” yang diselenggarakan Mahasiswa Politeknik Negeri Bandung [Polban], 14 Juli 2007)&lt;br /&gt;PUBLIK Speaker adalah orang yang melakukan Public Speaking (PS), yakni berbicara di depan umum, utamanya ceramah atau pidato.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara luas, PS mencakup semua aktivitas berbicara (komunikasi lisan) di depan orang banyak, termasuk dalam rapat, membawakan acara (jadi MC), presentasi, diskusi, briefing, atau mengajar di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presenter TV dan penyair radio termasuk melakukan PS dilihat dari sisi jumlah audience yang banyak (publik), meskipun tidak face to face.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi “Great Public Speaker” dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:1. Practice –Latihan pidato di depan kawan-kawan, keluarga, bahkan anjing/kucing, atau siapa saja yang bisa mendengarkan; di depan cermin; menggunakan recorder.2. Building Skill –membangun keterampilan PS dengan memahami teknik PS, meliputi persiapan dan penyampaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSIAPAN&lt;br /&gt;Persiapan Mental&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Rileks! Atasi gugup dengan menarik nafas panjang/dalam; menggerakan badan; berdiri tegak layaknya tentara berbaris dengan bahu dan dada yang tegap, lalu tersenyumlah!&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Know the room! Jadikan seakan-akan ia kamar Anda sendiri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Know the audience! Kenali karakteristik dan pandang mereka sebagai teman akrab.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Know your material! Anggaplah Anda yang paling tahu.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Persiapan Fisik&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pastikan kondisi badan dan suara fit, segar, dan normal&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kenakan pakaian yang serasi dengan susana acara.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan memakan keju, mentega, atau minum susu, soda, teh, kopi, sekurang-kurangnya sejam sebelum tampil.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jabatlah tangan Anda agar darah mengalir — membuat gerakan tangan Anda lebih alami saat berbicara di podium.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jaga agar mulut dan tenggorokan Anda tetap basah. Siapkan selalu air mineral.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Persiapan Materi&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Baca literatur dan cari sumber data sebanyak mungkin. Semakin banyak pengetahuan dan wawasan, Anda pun kian percaya diri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Susun pointer atau outline.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anda punya empat pilihan penguasaan materi: Membaca naskah (Reading from complete text), menggunakan catatan (Using notes) berupa garis besar materi (outline) –ini cara terbaik, menggunakan hapalan (memory) –pilihan terburuk karena komunikasi dengan audience berkurang, terutama soal kontak mata; dan menggunakan alat bantu visual sebagai catatan (Using Visual Aids as Notes).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;PEMBUKAAN&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Start Low and Slow&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Don’t apologize.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teknik pembuka a.l. langsung menyebut pokok persoalan yang akan dibicarakan; mengajukan pertanyaan provokatif, menyatakan kutipan — teori, ungkapan, peristiwa, atau pepatah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;PENYAMPAIAN1. Teknik pemaparan: deduktif – gagasan utama ke perincian; “teori” ke empiris; induktif – kasus ke kesimpulan; empiris ke “teori”; kronologis – Urutan peristiwa.2. Audible –bicaralah agak keras agar cukup terdengar (Audible)3. Clarity — ucapkan setiap kata dengan jelas (Clarity).4. Gunakan kata berona (colorfull word) – yang melukiskan sikap, perasaan, keadaan. Misalnya, kata “terisak-isak” lebih berona daripada kata “menangis”; kata “matanya berbinar-binar” -&gt; bergembira, dll.5. Kalimat aktif (action words) lebih dinamis daripada kalimat pasif.&lt;br /&gt;PENUTUP1. Langsung tutup, ucapkan salam, jika materi pembicaraan sudah disampaikan atau waktu sudah habis.2. Teknik penutup: menyimpulkan, menyatakan kembali gagasan utama dengan kalimat berbeda, mendorong audience untuk bertindak (Appeal for Action), kutipan sajak, kitab suci, pribahasa, atau ucapan ahli, memuji khalayak, dll.&lt;br /&gt;ELEMEN PUBLIC SPEAKINGTeknik Vokal1. Intonasi (intonation) –nada suara, irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata.2. Aksentuasi (accentuation) atau logat, dialek. Lakukan stressing pada kata-kata tertentu yang dianggap penting.3. Kecepatan (speed). Jangan bicara terlalu cepat.4. Artikulasi (articulation), yaitu kejelasan pengucapan kata-kata; pelafalan kata (pronounciation).5. Infleksi – lagu kalimat, perubahan nada suara; hindari pengucapan yang sama bagi setiap kata. Infleksi naik (go up) menunjukkan adanya lanjutan, menurun (go down) tunjukkan akhir kalimat.&lt;br /&gt;Eye Contact1. Pandang audience; sapukan pandangan ke seluruh audience.2. Pandang tepat pada matanya!&lt;br /&gt;Gesture1. Alami, spontan, wajar, tidak dibuat-buat.2. Penuh, tidak sepotong-sepotong, tidak ragu.3. Sesuai dengan kata-kata.4. Gunakan untuk penekanan pada poin penting,5. Jangan berlebihan. Less is more!6. The most important gesture: to SMILE!7. Gerakan tubuh meliputi: ekspresi wajah, gerakan tangan, lengan, bahu, mulut atau bibir, gerakan hidung, kepala, badan, kaki.8. Setiap gerakan mengandung tiga bagian: Pendekatan (The Approach) – Tubuh siap untuk bergerak; Gerakan (The Stroke) – gerakan tubuh itu sendiri; dan Kembali (The Return) – kembali ke posisi semula atau keadaan normal.9. Variatif, jangan monoton. Misalnya terus-menerus mengepalkan jari tangan di atas.10. Jangan melalukan gerakan tubuh yang tidak bermakna atau tidak mendukung pembicaraan seperti: memegang kerah baju, mempermainkan mike, meremas-remas jari, dan menggaruk-garuk kepala.11. Makin besar jumlah hadirin, kian besar dan lambat gerakan tubuh yang kita lakukan. Jika kita berbicara di depan hadirin dalam jumlah kecil, atau di videoconferencing, atau di televisi, lakukan gerakan tubuh alakadarnya (smaller gestures).&lt;br /&gt;Humor1. Bumbu Public Speaking.2. Use Natural Humor! Don’t try to be a stand up comedian!3. Gunakan hentian (pause) sekadar memberikan kesempatan kepada pendengar untuk tertawa.4. Teknik humor a.l. Exaggeration –melebihkan sesuatu secara tidak proporsional. Misalnya, ungkapan “hujan lokal” bagi pembicara yang “menyemburkan” air liur; parodi –meniru gaya suatu karya serius (lagu, pepatah, puisi) dengan penambahan agar lucu, misalnya mengubah lirik lagu dengan kata-kata baru bernada humor; teknik belokan mendadak –membawa khalayak untuk meyakini bawa kita akan berbicara normal, namun tiba-tiba kita mengatakan sebaliknya atau tidak disangka-sangka pada akhir pembicaraan. Contoh: Saya mencintai seorang wanita, namun kami tidak bisa menikah karena keluarganya merasa keberatan. Saya tidak bisa apa-apa, karena keluarganya yang tidak setuju itu adalah suami dan anak-anaknya!; TV (baca: tivi) yang dibuat di Bandung dan bermerk “Parisj van Java” yaitu tipikir-pikir tidak ada.&lt;br /&gt;EXTRA !!!‘PUBLIC SPEAKING’ ON RADIO&lt;br /&gt;BERBICARA di radio (siaran) membutuhkan skill tersendiri. Kita tidak bisa melihat pendengar, demikian pula sebaliknya. “Pendengarmu tak tahu wajahmu… Pendengarmu tak tahu rumahmu… Suaramu pengenalmu,” demikian kata Bimbo dalam syair lagu “Balada Seorang Penyiar”.&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, radio disebut “Theatre of Mind”. Kita dan pendengar hanya bisa saling membayangkan sosok masing-masing.&lt;br /&gt;Pembicara di radio, utamanya penyiar (announcer), memang unik: berbicara kepada audience yang tidak terlihat (invisible audience); tidak berbicara kepada siapa pun –yakni tidak ada lawan bicara secara fisik hadir di depan mata, namun pada saat yang sama ia berbicara kepada setiap orang, mungkin ribuan pendengar. (Simultaneously talking to no one - that is no one in your physical presence - and everyone, possible thousands of listeners). Oleh karena itu, berbicara di radio atau ketika siaran, lakukan dan miliki hal-hal berikut:&lt;br /&gt;Visualize!Mau tidak mau, visualisasi (membayangkan pendengar) harus dilakukan ketika siaran. Kita harus mementuk “mental image” tentang pendengar. Caranya: “Bayangkan, kita sedang berbicara, ngobrol, dengan seorang pendengar yang sedang duduk di depan kita! Membayangkan adanya seorang pendengar di depan kita, akan membantu kita berkomunikasi secara alamiah, gaya ngobrol (conversational way)”.&lt;br /&gt;“Bicara kepada satu orang” adalah prinsip dasar siaran radio atau berbicara di radio.&lt;br /&gt;Smile!“Senyumlah! Meskipun kita tidak bisa melihat orangnya (yang jadi teman bicara)”. Kehangatan pembicaraan dapat dibangun dengan senyum. Senyim ketika berbicara (siaran) di radio, senilai dengan kontak mata (eye contact).&lt;br /&gt;WawasanPenyiar harus berwawasan agar siarannya hidup, dinamis, berisi, dan tidak monoton. Kosakata, varietas kata, improvisasi, hanya bisa dilakukan oleh penyiar yang berwawasan luas. Karena itu, banyak baca, jadilah orang yang haus ilmu dan pengetahuan! Dijamin, jika Anda berwawasan luas, takkan kehabisan kata-kata untuk berbicara.&lt;br /&gt;Sense of MusicRadio identik dengan musik, gudangnya lagu, dan pendengar umumnye menyetel radio untuk mendengarkan lagu favorit. Penyiar harus memiliki sense of music yang tinggi. Soalnya, tugas penyiar bukan hanya mutar lagu-lagu, tapi mesti paham juga tentang jenis musik, alat musik, dan artisnya.&lt;br /&gt;Sense of HumorPenyiar juga harus humoris, punya bakat menghibur. Bakat itu diperlukan karena profesi penyiar radio dituntut mampu menghibur pendengar. Lagi pula, radio identik dengan hiburan (entertaintment).&lt;br /&gt;Bahasa TuturSiaran harus menggunakan bahasa tutur, bahasa percakapan (conversational language), demikian juga naskah berita atau iklan.&lt;br /&gt;Bahasa tutur yaitu bahasa yang dipakai dalam pergaulan sehari-hari yang mempunyai ciri khas: (a) kalimatnya sederhana, singkat, kurang lengkap, tidak banyak menggunakan kata penghubung; dan (b) menggunakan spoken words atau kata-kata yang lazim dipakai sehari-hari (bahasan lebih lengkap tentang Penyiar Profesional baca tulisan “Menjadi Penyiar Profesional” di weblog ini).&lt;br /&gt;REFERENCE:- ASM. Romli, Lincah Menulis Pandai Bicara. Nuansa Bandung, 2003.- ASM. Romli, Broadcast Journalism: Panduan Menjadi Penyiar, Reporter, dan Scriptwriter. Nuansa Bandung, 2005.- Anne Fisher, “Secrets of Great Public Speaking”. www.money.cnn.com- “One-Liner for Speaker”. www.halife.com- “Public Speaking Glossary”, www.public-speaking.org-“Radio Announcement: Finding Your Best Voice,” The College of Communication The University of Texas, http://www.utexas.edu.*&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8455357203559691449-5160165353774382626?l=kpi-staipersis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/feeds/5160165353774382626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/07/menjadi-great-public-speaker.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/5160165353774382626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/5160165353774382626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/07/menjadi-great-public-speaker.html' title='Menjadi ‘Great Public Speaker’'/><author><name>HMJ KPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13828611505631743873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='16' src='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Sg7PQuakk9I/AAAAAAAAAEI/csWQTzvhxsk/S220/KPI+SURAT.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8455357203559691449.post-5701069721428608055</id><published>2007-07-02T10:05:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T04:37:17.973+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profil'/><title type='text'>Nurmawan, Drs.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/RqbGsrV7rgI/AAAAAAAAAAs/vHnNymohhSU/s1600-h/100_3123.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/RqbGsrV7rgI/AAAAAAAAAAs/vHnNymohhSU/s320/100_3123.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5090974899640184322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Nurmawan, Drs. Seorang dosen sekaligus ketua jurusan di STAI Persatuan Islam Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8455357203559691449-5701069721428608055?l=kpi-staipersis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/feeds/5701069721428608055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/07/nurmawan-drs.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/5701069721428608055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/5701069721428608055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/07/nurmawan-drs.html' title='Nurmawan, Drs.'/><author><name>HMJ KPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13828611505631743873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='16' src='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Sg7PQuakk9I/AAAAAAAAAEI/csWQTzvhxsk/S220/KPI+SURAT.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/RqbGsrV7rgI/AAAAAAAAAAs/vHnNymohhSU/s72-c/100_3123.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8455357203559691449.post-6013387088456484958</id><published>2007-07-02T10:02:00.001+07:00</published><updated>2007-07-02T10:11:10.218+07:00</updated><title type='text'>Komunikasi Penyiaran Islam</title><content type='html'>Komunikasi Penyiaran Islam adalah suatu jurusan dalam fakultas Dakwah di Sekolah Tinggi Agama Islam, baik negeri ataupun swasta. khususnya di STAI Persatuan Islam yang terletak di Jl. Ciganitri Bojongsoang kabupaten Bandung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8455357203559691449-6013387088456484958?l=kpi-staipersis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/feeds/6013387088456484958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/07/komunikasi-penyiaran-isalm.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/6013387088456484958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8455357203559691449/posts/default/6013387088456484958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/07/komunikasi-penyiaran-isalm.html' title='Komunikasi Penyiaran Islam'/><author><name>HMJ KPI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13828611505631743873</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='16' src='http://3.bp.blogspot.com/_lBdsWN735cQ/Sg7PQuakk9I/AAAAAAAAAEI/csWQTzvhxsk/S220/KPI+SURAT.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
