Himpunan Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam Bandung

15 Agustus 2007

Surat Cinta Untuk Aa Gym


Judul : Ketika Aa Gym Kehilangan Hati
( Surat Cinta Dari Hati Yang Terluka)
Penulis : Ummu al-Ghifari
Terbitan : Mujahid Press, Februari 2007
Jumlah halaman : 142 Halaman


Surat
Cinta Untuk Aa Gym
Resensor: Dh. Haflah*

Mengapa harus ketika Aa Gym yang mempraktekan Poligami, ketika itu pula muncul permasalahan sekitar Poligami tersebut. Padahal, besar kemungkinannya jauh hari sebelum Aa Gym berpoligami, bahkan hingga sesaat sebelum Aa Gym putuskan untuk berpoligami dan media pun meng-ekspose-nya, ada dari kalangan suami yang memutuskan untuk membawa madu lain kerumah atau berpoligami.

Salah satu alasan yang mungkin bisa diterima adalah karena Aa Gym merupakan seorang Figur, yang selama ini berperan sebagai penunjuk “Pengobat” hati. Namun kini beliau harus berurusan dengan hati, terutama hati perempuan yang berperan sebagai seorang istri yang merasa bahwa, sebagaimana seorang figur, tokoh yang mau tidak mau menjadi panutan dan rujukan dalam berbagai aktifitas, langkah yang ditempuhnya pun dipandang sebagai hal yang bisa dijadikan landasan bagi kaum laki-laki untuk mengikuti sang tokoh dan para suami seolah mendapatkan angin segar untuk melegalkan keinginannya untuk berpoligami. Setidaknya itulah yang diungkap di dalam buku ini.

Ternyata tidak cukup dengan satu minggu sebagaimana yang diinginkan dan diamanatkan oleh Aa Gym, untuk tidak lebih lanjut mepermasalahkan langkah yang diambilnya ini, melihat masih banyak yang perlu dipikirkan. Terbukti dengan masih diproses dan diterbitkannya buku yang berkaitan dengan poligami Aa Gym.

Bukan masalah hukum syar`i yang dipermaslahkan di dalam buku ini, mengingat sang penulis, Ummu al-Ghifari merupakan aktivis da`wah dan dibesarkan dilingkungan dakwah serta saat ini berperan sebagai Guru. Namun, dalam penulisan buku ini, sesuai dengan ajaran yang sering dibawakan oleh Pribadi Aa Gym yang dikenal dengan trademark-nya, yaitu Hati. Penulis yang menyerap ajaran dan nasihat yang diberikan Aa Gym ini merasa mendapatkan hal yang bertentangan dengan hati itu sendiri, terutama hati seorang wanita.

Lewat buku ini, penulis menyajikan semacam ketidak-siapan dari seorang wanita menghadapi poligami, dan memang buku ini ditujukan untuk para wanita yang tidak menginginkan kehilangan hari-harinya bersama sang suami, sehingga peraduannya ditinggal sang suami yang mengakibatkannya sendiri dalam sepi. Selain itu, penulis juga menyatakan bahwa tulisan ini berlandaskan segala kepedihan atas derita Kaum hawa, dan mengajak untuk mnegenyahkan segala bentuk “racun” yang berbungkus “madu”.

Penulis menyampaikan pikiran-pikiran tersebut yang di “Ya” kan , bahwa bukan masalah syari`at, tetapi model poligami yang terjadi sekarang ini dipandang tidak sesuai dengan syariat yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Poligami sekarang lebih tertuju kepada pe-“Manfaat”-an alasan syar`i poligami yang dijadikan “Kojo” untuk berpoligami. Bahkan iming-iming syurga bagi wanita yang mau dimadu pun, penulis buku ini pun mencoba mengupasnya.

Penulis memandang langkah yang diambil oleh Aa Gym tersebut menyulut api hati yang dinyalakan sendiri oleh Aa Gym. Perbuatan yang dianggap melukai haum hawa atas apa yang diperbuatnya.

Hati, sebagaimana diketahui, tidaklah akan sama perasaan hati seorang wanita dengan wanita yang lainnya. Tetapi terlepas dari itu, penulis mengungkapkan perasaan hatinya sendiri yang merasa terbebani melalui kata-kata yang tercurah berbentuk “surat cinta”, meminta pertanggungjawaban dari sang tokoh atas ucapannya sendiri yang dikutif ke dalam salah satu bagian buku tersebut, bahwa menikmati kehidupan dengan membebani orang lain adalah hidup tidak mulia.

Namun masih tersisa pertanyaan, berbagai alasan dan pernyataan yang diungkap dalam buku ini dinyatakan sebagai ungkapan yang mewakili perasaan kaum Hawa. Benarkah semua kaum hawa mengalami hal itu, mengedepankan perasaannya tanpa menghiraukan syari`at dalam menghadapi praktek poligami ini?. Bisakah kita mengedepankah perasaan untuk menghadapi syari`at-syari`at yang telah ditetapkan oleh Allah?. Dan satu catatan pula bagi para pelaku poligami dan yang berniat untuk berpoligami untuk lebih memperhatikan keadaan yang melingkupi perasaan seorang perempuan dan yang lainnya, bukan hanya kepentingan pribadi. Mungkin pula semua hal yang diungkap dalam buku ini tentang kenyataan poligami, benar begitu adanya. Wallahu a`lamu bi al-Showab.

Resensor, Mahasiswa Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Persatuan Islam
Bandung